Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Jumat, 06 Februari 2026 |
KALBARONLINE.com – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunandi mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai virus nipah yang belakangan tengah menghebohkan dunia kesehatan. Ia mengatakan, virus ini memiliki tingkat kematian cukup tinggi, meski penularannya tidak semudah Covid-19.
Budi menjelaskan, virus nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari hewan, terutama kelelawar. Penularan awal terjadi ketika kelelawar menggigit atau mengkonsumsi buah, lalu virus tersebut menempel pada buah yang jatuh ke tanah.
“Buah yang sudah terkontaminasi itu biasanya dimakan oleh babi. Dari situ babi bisa terinfeksi, dan ketika daging babi dikonsumsi manusia, virusnya bisa menular,” jelas Menkes Budi usai meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuan Besar Syarif Idrus di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Jumat (06/02/2026)
Menurutnya, rantai penularan virus nipah umumnya berasal dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia. Selain melalui konsumsi daging, penularan juga bisa terjadi dari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Ia menekankan, meskipun tingkat fatalitas virus nipah tergolong tinggi, penularannya relatif lebih sulit dibandingkan Covid-19. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang bepergian ke negara-negara dengan riwayat kasus virus Nipah seperti India dan Bangladesh.
“Kalau ke daerah-daerah yang ada nipahnya, sebaiknya jangan makan buah sembarangan dan hindari konsumsi daging, khususnya daging babi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa dalam kondisi tertentu, penularan antar manusia masih mungkin terjadi, misalnya melalui droplet atau kontak erat, sehingga protokol kewaspadaan tetap harus dijaga.
Pemerintah, lanjut Menkes Budi, terus memantau perkembangan global terkait virus nipah, dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas kesehatan. (Lid)
KALBARONLINE.com – Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunandi mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai virus nipah yang belakangan tengah menghebohkan dunia kesehatan. Ia mengatakan, virus ini memiliki tingkat kematian cukup tinggi, meski penularannya tidak semudah Covid-19.
Budi menjelaskan, virus nipah merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari hewan, terutama kelelawar. Penularan awal terjadi ketika kelelawar menggigit atau mengkonsumsi buah, lalu virus tersebut menempel pada buah yang jatuh ke tanah.
“Buah yang sudah terkontaminasi itu biasanya dimakan oleh babi. Dari situ babi bisa terinfeksi, dan ketika daging babi dikonsumsi manusia, virusnya bisa menular,” jelas Menkes Budi usai meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tuan Besar Syarif Idrus di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar, Jumat (06/02/2026)
Menurutnya, rantai penularan virus nipah umumnya berasal dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia. Selain melalui konsumsi daging, penularan juga bisa terjadi dari kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.
Ia menekankan, meskipun tingkat fatalitas virus nipah tergolong tinggi, penularannya relatif lebih sulit dibandingkan Covid-19. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama bagi masyarakat yang bepergian ke negara-negara dengan riwayat kasus virus Nipah seperti India dan Bangladesh.
“Kalau ke daerah-daerah yang ada nipahnya, sebaiknya jangan makan buah sembarangan dan hindari konsumsi daging, khususnya daging babi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, bahwa dalam kondisi tertentu, penularan antar manusia masih mungkin terjadi, misalnya melalui droplet atau kontak erat, sehingga protokol kewaspadaan tetap harus dijaga.
Pemerintah, lanjut Menkes Budi, terus memantau perkembangan global terkait virus nipah, dan mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta mengikuti informasi resmi dari otoritas kesehatan. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini