Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Selasa, 10 Maret 2026 |
KALBARONLINE.com - Di sebuah gang kecil di Jalan Komyos Sudarso, Pontianak, ada tempat yang suasananya terasa berbeda selama Ramadan. Tidak ramai oleh suara lantunan ayat Al-Qur’an seperti di kebanyakan tempat mengaji. Namun memberikan sebuah ketenangan.
Tempat itu adalah Maktab Tuli As Sami, sebuah ruang belajar bagi anak-anak tuli untuk mengenal dan membaca Al-Qur’an dengan bahasa isyarat.
Selama bulan Ramadan, aktivitas di maktab yang berada di Gang Alpokat Permai No.13 itu semakin hidup. Puluhan santri tuli berkumpul setiap hari untuk belajar mengaji, memperdalam bacaan Al-Qur’an, sekaligus menjalani ibadah puasa bersama.
Pengurus Maktab Tuli As Sami, Muhammad Romi mengatakan, Ramadan menjadi momen penting bagi para santri untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.
“Selama Ramadan ini kita memang fokus memperbanyak membaca Al-Qur’an. Selain itu, anak-anak juga kita ajarkan tentang puasa,” ujarnya, Sabtu (07/03/2026).
Menariknya, semangat para santri tuli ini tak kalah dengan anak-anak pada umumnya. Bahkan hingga pertengahan Ramadan tahun ini, hampir semua santri mampu menjalani puasa penuh.
“Alhamdulillah sampai Ramadan ke-16 ini tidak ada yang bolong. Mereka puasanya full,” kata Romi.
Setiap tahun, jumlah santri di Maktab Tuli As Sami terus meningkat. Pada 2026 ini, tercatat ada sekitar 64 santri yang belajar di tempat tersebut. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berkisar 56 santri.
Para santri datang dari berbagai latar belakang dan usia. Rata-rata mereka berusia belasan tahun, mulai dari sekitar 12 hingga 25 tahun. Romi mengatakan senagian besar dari mereka datang tanpa kemampuan membaca Al-Qur’an sama sekali.
“Mereka di sini belajar dari nol. Dari Iqra, bahkan ada yang benar-benar belum tahu ngaji sama sekali,” jelas Romi.
Namun seiring waktu, perkembangan mereka cukup menggembirakan. Beberapa santri bahkan sudah berhasil menamatkan Iqra, dan ada pula yang mulai membaca Al-Qur’an.
“Ada beberapa yang sudah hatam Iqra, bahkan sudah mulai membaca Al-Qur’an,” katanya.
Untuk hafalan, para santri masih dalam tahap awal. Mereka baru menghafal surah-surah pendek secara bertahap.
Kegiatan belajar di maktab ini tidak lepas dari peran para relawan. Tahun ini, sekitar 15 pengajar terlibat membimbing para santri.
Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga relawan dari sejumlah komunitas di Pontianak.
“Semua pengajar di sini volunteer,” kata Romi.
Keberadaan pengajar yang memahami bahasa isyarat menjadi hal yang sangat penting. Pasalnya, guru agama yang mampu mengajar dengan bahasa isyarat masih sangat terbatas.
“Kalau guru agama yang berbasis bahasa isyarat, sejauh ini kami baru menemukan di sini saja,” ujarnya.
Selain mengaji, para santri juga ikut terlibat dalam kegiatan sosial selama Ramadan. Salah satunya adalah membagikan takjil kepada masyarakat.
Ketika ada donatur yang berkontribusi menyediakan takjil, para santri turut turun langsung untuk membagikannya. (Lid)
KALBARONLINE.com - Di sebuah gang kecil di Jalan Komyos Sudarso, Pontianak, ada tempat yang suasananya terasa berbeda selama Ramadan. Tidak ramai oleh suara lantunan ayat Al-Qur’an seperti di kebanyakan tempat mengaji. Namun memberikan sebuah ketenangan.
Tempat itu adalah Maktab Tuli As Sami, sebuah ruang belajar bagi anak-anak tuli untuk mengenal dan membaca Al-Qur’an dengan bahasa isyarat.
Selama bulan Ramadan, aktivitas di maktab yang berada di Gang Alpokat Permai No.13 itu semakin hidup. Puluhan santri tuli berkumpul setiap hari untuk belajar mengaji, memperdalam bacaan Al-Qur’an, sekaligus menjalani ibadah puasa bersama.
Pengurus Maktab Tuli As Sami, Muhammad Romi mengatakan, Ramadan menjadi momen penting bagi para santri untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an.
“Selama Ramadan ini kita memang fokus memperbanyak membaca Al-Qur’an. Selain itu, anak-anak juga kita ajarkan tentang puasa,” ujarnya, Sabtu (07/03/2026).
Menariknya, semangat para santri tuli ini tak kalah dengan anak-anak pada umumnya. Bahkan hingga pertengahan Ramadan tahun ini, hampir semua santri mampu menjalani puasa penuh.
“Alhamdulillah sampai Ramadan ke-16 ini tidak ada yang bolong. Mereka puasanya full,” kata Romi.
Setiap tahun, jumlah santri di Maktab Tuli As Sami terus meningkat. Pada 2026 ini, tercatat ada sekitar 64 santri yang belajar di tempat tersebut. Jumlah itu meningkat dibanding tahun sebelumnya yang berkisar 56 santri.
Para santri datang dari berbagai latar belakang dan usia. Rata-rata mereka berusia belasan tahun, mulai dari sekitar 12 hingga 25 tahun. Romi mengatakan senagian besar dari mereka datang tanpa kemampuan membaca Al-Qur’an sama sekali.
“Mereka di sini belajar dari nol. Dari Iqra, bahkan ada yang benar-benar belum tahu ngaji sama sekali,” jelas Romi.
Namun seiring waktu, perkembangan mereka cukup menggembirakan. Beberapa santri bahkan sudah berhasil menamatkan Iqra, dan ada pula yang mulai membaca Al-Qur’an.
“Ada beberapa yang sudah hatam Iqra, bahkan sudah mulai membaca Al-Qur’an,” katanya.
Untuk hafalan, para santri masih dalam tahap awal. Mereka baru menghafal surah-surah pendek secara bertahap.
Kegiatan belajar di maktab ini tidak lepas dari peran para relawan. Tahun ini, sekitar 15 pengajar terlibat membimbing para santri.
Mereka datang dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga relawan dari sejumlah komunitas di Pontianak.
“Semua pengajar di sini volunteer,” kata Romi.
Keberadaan pengajar yang memahami bahasa isyarat menjadi hal yang sangat penting. Pasalnya, guru agama yang mampu mengajar dengan bahasa isyarat masih sangat terbatas.
“Kalau guru agama yang berbasis bahasa isyarat, sejauh ini kami baru menemukan di sini saja,” ujarnya.
Selain mengaji, para santri juga ikut terlibat dalam kegiatan sosial selama Ramadan. Salah satunya adalah membagikan takjil kepada masyarakat.
Ketika ada donatur yang berkontribusi menyediakan takjil, para santri turut turun langsung untuk membagikannya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini