Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 19 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Ratusan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (18/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membebani tenaga pendidik serta mengkritisi keterlibatan sejumlah institusi negara dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura (FKIP Untan), Fahri Andhika, mengatakan banyak tenaga pendidik merasa terbebani karena sebagian waktu yang seharusnya difokuskan untuk kegiatan belajar mengajar justru tersita untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kekhawatiran terkait pemangkasan anggaran pendidikan yang dinilai berpotensi berdampak terhadap kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan.
"Pendidik menyatakan mereka benar-benar terbebani. Waktu yang seharusnya dimaksimalkan untuk pendidikan dan mengajar teralihkan kepada program-program MBG," kata Fahri.
Dalam orasinya, Fahri juga menyinggung keterlibatan aparat penegak hukum, institusi militer, hingga wakil rakyat dalam pelaksanaan SPPG. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan pengawasan dan akuntabilitas.
"Kita mau laporkan SPPG ke Polri, Polri ada SPPG, begitu juga TNI dan anggota dewan ada SPPG," kata Fahri di hadapan massa aksi.
Usai demonstrasi, Fahri menjelaskan bahwa kritik yang disampaikannya sejalan dengan keberatan sejumlah kalangan pendidik terhadap pelaksanaan Program MBG. Ia menilai program tersebut tidak hanya memunculkan polemik di tengah masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap tenaga pendidik sebagai ujung tombak dunia pendidikan.
"Apa yang saya sampaikan hari ini merupakan kelanjutan dari apa yang disampaikan persatuan guru yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Program MBG hari ini bukan hanya mencederai rasa keadilan masyarakat, tetapi juga dirasakan oleh para pendidik sebagai instrumen utama dalam proses pendidikan," ujarnya.
Fahri juga mempertanyakan posisi aparat penegak hukum dan pejabat negara yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kondisi itu dapat memunculkan konflik kepentingan ketika masyarakat ingin menyampaikan kritik atau melaporkan persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya.
Mahasiswa dalam aksi tersebut turut meminta agar peran institusi militer maupun aparat tidak diperluas ke ranah yang selama ini menjadi domain sipil.
"Salah satu tuntutan kami adalah jangan memperluas ranah militer dan jangan memperluas ranah yang sebelumnya diurus sipil kepada pihak yang bukan semestinya," tegasnya.
Aksi mahasiswa di Bundaran Tugu Digulis tersebut menjadi bagian dari penyampaian aspirasi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini terus menjadi sorotan di berbagai daerah. (*)
KALBARONLINE.com – Ratusan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di Bundaran Tugu Digulis, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (18/6/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai membebani tenaga pendidik serta mengkritisi keterlibatan sejumlah institusi negara dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua BEM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjungpura (FKIP Untan), Fahri Andhika, mengatakan banyak tenaga pendidik merasa terbebani karena sebagian waktu yang seharusnya difokuskan untuk kegiatan belajar mengajar justru tersita untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti kekhawatiran terkait pemangkasan anggaran pendidikan yang dinilai berpotensi berdampak terhadap kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan.
"Pendidik menyatakan mereka benar-benar terbebani. Waktu yang seharusnya dimaksimalkan untuk pendidikan dan mengajar teralihkan kepada program-program MBG," kata Fahri.
Dalam orasinya, Fahri juga menyinggung keterlibatan aparat penegak hukum, institusi militer, hingga wakil rakyat dalam pelaksanaan SPPG. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan persoalan pengawasan dan akuntabilitas.
"Kita mau laporkan SPPG ke Polri, Polri ada SPPG, begitu juga TNI dan anggota dewan ada SPPG," kata Fahri di hadapan massa aksi.
Usai demonstrasi, Fahri menjelaskan bahwa kritik yang disampaikannya sejalan dengan keberatan sejumlah kalangan pendidik terhadap pelaksanaan Program MBG. Ia menilai program tersebut tidak hanya memunculkan polemik di tengah masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap tenaga pendidik sebagai ujung tombak dunia pendidikan.
"Apa yang saya sampaikan hari ini merupakan kelanjutan dari apa yang disampaikan persatuan guru yang menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Program MBG hari ini bukan hanya mencederai rasa keadilan masyarakat, tetapi juga dirasakan oleh para pendidik sebagai instrumen utama dalam proses pendidikan," ujarnya.
Fahri juga mempertanyakan posisi aparat penegak hukum dan pejabat negara yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, kondisi itu dapat memunculkan konflik kepentingan ketika masyarakat ingin menyampaikan kritik atau melaporkan persoalan yang muncul dalam pelaksanaannya.
Mahasiswa dalam aksi tersebut turut meminta agar peran institusi militer maupun aparat tidak diperluas ke ranah yang selama ini menjadi domain sipil.
"Salah satu tuntutan kami adalah jangan memperluas ranah militer dan jangan memperluas ranah yang sebelumnya diurus sipil kepada pihak yang bukan semestinya," tegasnya.
Aksi mahasiswa di Bundaran Tugu Digulis tersebut menjadi bagian dari penyampaian aspirasi terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang saat ini terus menjadi sorotan di berbagai daerah. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini