Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 02 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi secara berlebihan, atau yang dikenal sebagai bruxism, masih sering dianggap sepele. Padahal, jika dibiarkan berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mulut, mulai dari gigi aus, gigi retak, hingga nyeri pada sendi rahang.
Dokter gigi RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Annisa Putri, menjelaskan bahwa bruxism dapat terjadi saat seseorang sedang tidur (sleep bruxism) maupun ketika terjaga (awake bruxism).
Menurutnya, banyak penderita tidak menyadari kebiasaan tersebut hingga muncul berbagai keluhan, seperti sakit kepala saat bangun tidur, rahang terasa pegal, gigi menjadi sensitif, atau pasangan tidur mendengar suara gemeretak gigi pada malam hari.
"Tekanan yang terus-menerus pada gigi dan sendi rahang dapat mengikis lapisan email gigi. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko menyebabkan retakan pada gigi, kerusakan tambalan, bahkan kehilangan gigi pada kasus berat," ujarnya saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Kamis (2/7/2026).
Selain merusak gigi, bruxism juga dapat memengaruhi sendi rahang sehingga menimbulkan rasa nyeri, bunyi "klik" saat membuka mulut, hingga kesulitan saat mengunyah makanan.
Annisa menjelaskan, penyebab bruxism cukup beragam. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan tekanan emosional menjadi pemicu yang paling sering ditemukan.
Di samping itu, gangguan tidur, konsumsi kafein atau alkohol secara berlebihan, kebiasaan merokok, hingga kondisi tertentu pada susunan gigi juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami bruxism.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada bruxism. Menurutnya, diagnosis sejak dini sangat penting agar kerusakan pada gigi tidak semakin parah.
Penanganan bruxism dapat dilakukan melalui penggunaan pelindung gigi (night guard) saat tidur, perawatan terhadap gigi yang mengalami kerusakan, serta mengatasi faktor pemicu, seperti mengelola stres dan memperbaiki kualitas tidur.
Selain itu, Annisa juga menganjurkan masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan, seperti menjaga waktu tidur yang cukup, melakukan relaksasi sebelum tidur, membatasi konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta rutin memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali.
"Bruxism memang sering tidak disadari, namun dampaknya dapat berlangsung jangka panjang. Mengenali sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan gigi, rahang, dan kualitas hidup secara keseluruhan," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Kebiasaan menggemeretakkan atau mengatupkan gigi secara berlebihan, atau yang dikenal sebagai bruxism, masih sering dianggap sepele. Padahal, jika dibiarkan berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan kesehatan mulut, mulai dari gigi aus, gigi retak, hingga nyeri pada sendi rahang.
Dokter gigi RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Annisa Putri, menjelaskan bahwa bruxism dapat terjadi saat seseorang sedang tidur (sleep bruxism) maupun ketika terjaga (awake bruxism).
Menurutnya, banyak penderita tidak menyadari kebiasaan tersebut hingga muncul berbagai keluhan, seperti sakit kepala saat bangun tidur, rahang terasa pegal, gigi menjadi sensitif, atau pasangan tidur mendengar suara gemeretak gigi pada malam hari.
"Tekanan yang terus-menerus pada gigi dan sendi rahang dapat mengikis lapisan email gigi. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko menyebabkan retakan pada gigi, kerusakan tambalan, bahkan kehilangan gigi pada kasus berat," ujarnya saat memberikan edukasi di RSUD SSMA Kota Pontianak, Kamis (2/7/2026).
Selain merusak gigi, bruxism juga dapat memengaruhi sendi rahang sehingga menimbulkan rasa nyeri, bunyi "klik" saat membuka mulut, hingga kesulitan saat mengunyah makanan.
Annisa menjelaskan, penyebab bruxism cukup beragam. Faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan tekanan emosional menjadi pemicu yang paling sering ditemukan.
Di samping itu, gangguan tidur, konsumsi kafein atau alkohol secara berlebihan, kebiasaan merokok, hingga kondisi tertentu pada susunan gigi juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami bruxism.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala yang mengarah pada bruxism. Menurutnya, diagnosis sejak dini sangat penting agar kerusakan pada gigi tidak semakin parah.
Penanganan bruxism dapat dilakukan melalui penggunaan pelindung gigi (night guard) saat tidur, perawatan terhadap gigi yang mengalami kerusakan, serta mengatasi faktor pemicu, seperti mengelola stres dan memperbaiki kualitas tidur.
Selain itu, Annisa juga menganjurkan masyarakat menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan, seperti menjaga waktu tidur yang cukup, melakukan relaksasi sebelum tidur, membatasi konsumsi minuman berkafein pada malam hari, serta rutin memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali.
"Bruxism memang sering tidak disadari, namun dampaknya dapat berlangsung jangka panjang. Mengenali sejak dini dan mendapatkan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan gigi, rahang, dan kualitas hidup secara keseluruhan," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini