Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 10 September 2026 |
KALBARONLINE.com – Nyeri merupakan salah satu cara tubuh memberikan peringatan ketika terjadi gangguan atau sesuatu yang mengancam tubuh. Karena itu, rasa nyeri perlu dikenali dan tidak sebaiknya dianggap sepele.
Hal tersebut disampaikan dr. Achmad Faqih, Sp.N. FMIN dalam edukasi kesehatan bertema “Yuk, Kenali Jenis-Jenis Nyeri” yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Peduli Nyeri di RSUD SSMA, Kamis (10/9/2026).
Dalam edukasinya, dr. Faqih menjelaskan bahwa nyeri bukan sekadar rasa sakit, melainkan sistem peringatan tubuh yang mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh memberikan respons perlindungan yang sesuai.
“Nyeri merupakan salah satu tanda vital kelima. Selain tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu, nyeri juga perlu diperhatikan,” jelas dr. Faqih.
Menurutnya, kemampuan mengenali jenis nyeri sangat penting karena kesalahan dalam mengenali nyeri dapat berujung pada kesalahan penanganan. Tidak semua nyeri dapat diatasi dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas.
Jenis obat tertentu yang efektif untuk nyeri radang, misalnya, belum tentu efektif untuk nyeri yang disebabkan gangguan saraf.
Secara garis besar, dr. Faqih menjelaskan terdapat nyeri radang dan nyeri saraf. Nyeri radang berkaitan dengan kerusakan jaringan non-saraf, seperti otot, tulang, sendi, maupun jaringan lainnya.
Keluhan nyeri radang umumnya terasa pegal, kaku, berdenyut, dan cenderung terlokalisasi pada bagian tubuh tertentu. Nyeri pada sendi, otot, tulang, maupun akibat benturan merupakan beberapa contoh yang dapat termasuk dalam jenis ini.
Sementara itu, nyeri saraf terjadi akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf, baik saraf pusat maupun saraf tepi. Karakteristiknya juga berbeda, seperti sensasi panas terbakar, tersengat listrik, tertusuk jarum, kesemutan, kebas, atau mati rasa.
Salah satu ciri khas nyeri saraf adalah rasa sakit yang dapat menjalar. Misalnya, nyeri pinggang yang menjalar hingga ke telapak kaki atau nyeri leher yang menjalar hingga ke tangan.
“Tidak semua nyeri pinggang disebabkan oleh saraf kejepit. Kalau nyerinya tidak menjalar, bisa saja berkaitan dengan sendi, otot, atau struktur lain di sekitar tulang belakang,” terang dr. Faqih.
Lebih lanjut, dr. Faqih menyampaikan sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko nyeri saraf. Di antaranya diabetes yang tidak terkontrol, saraf terjepit, kurang bergerak atau terlalu lama duduk, aktivitas yang dilakukan secara berulang, kehamilan, kelebihan berat badan, serta beberapa gangguan penyakit lainnya.
Ia mengingatkan masyarakat, khususnya penyandang diabetes, agar menjaga kadar gula darah tetap terkontrol dan menerapkan pola hidup sehat untuk membantu mencegah komplikasi, termasuk gangguan saraf. Aktivitas fisik dan menghindari gaya hidup sedentari juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Masyarakat juga perlu menyesuaikan penanganan dengan jenis dan tingkat keparahan nyeri. Obat yang biasa digunakan untuk nyeri radang tidak selalu efektif untuk nyeri saraf. Nyeri saraf memerlukan penanganan sesuai penyebab dan kondisi pasien.
Selain pengobatan, penanganan nyeri dapat dilakukan secara bertahap melalui fisioterapi dan, bila diperlukan, tindakan lebih lanjut sesuai evaluasi dokter. Perbaikan postur tubuh, olahraga, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mencegah gangguan nyeri.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan dokter apabila nyeri tidak membaik setelah istirahat dan penanganan awal, nyeri tiba-tiba menjadi berat, muncul sensasi seperti tersetrum, panas terbakar, mati rasa atau kebas, maupun ketika nyeri sudah mengganggu aktivitas dan kualitas tidur.
Pada akhir edukasi, dr. Faqih mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal nyeri yang diberikan tubuh. Diagnosis dan penanganan sedini mungkin dapat membantu menentukan terapi yang lebih sesuai. (*)
KALBARONLINE.com – Nyeri merupakan salah satu cara tubuh memberikan peringatan ketika terjadi gangguan atau sesuatu yang mengancam tubuh. Karena itu, rasa nyeri perlu dikenali dan tidak sebaiknya dianggap sepele.
Hal tersebut disampaikan dr. Achmad Faqih, Sp.N. FMIN dalam edukasi kesehatan bertema “Yuk, Kenali Jenis-Jenis Nyeri” yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Peduli Nyeri di RSUD SSMA, Kamis (10/9/2026).
Dalam edukasinya, dr. Faqih menjelaskan bahwa nyeri bukan sekadar rasa sakit, melainkan sistem peringatan tubuh yang mengirimkan sinyal ke otak agar tubuh memberikan respons perlindungan yang sesuai.
“Nyeri merupakan salah satu tanda vital kelima. Selain tekanan darah, nadi, respirasi, dan suhu, nyeri juga perlu diperhatikan,” jelas dr. Faqih.
Menurutnya, kemampuan mengenali jenis nyeri sangat penting karena kesalahan dalam mengenali nyeri dapat berujung pada kesalahan penanganan. Tidak semua nyeri dapat diatasi dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas.
Jenis obat tertentu yang efektif untuk nyeri radang, misalnya, belum tentu efektif untuk nyeri yang disebabkan gangguan saraf.
Secara garis besar, dr. Faqih menjelaskan terdapat nyeri radang dan nyeri saraf. Nyeri radang berkaitan dengan kerusakan jaringan non-saraf, seperti otot, tulang, sendi, maupun jaringan lainnya.
Keluhan nyeri radang umumnya terasa pegal, kaku, berdenyut, dan cenderung terlokalisasi pada bagian tubuh tertentu. Nyeri pada sendi, otot, tulang, maupun akibat benturan merupakan beberapa contoh yang dapat termasuk dalam jenis ini.
Sementara itu, nyeri saraf terjadi akibat gangguan atau kerusakan pada sistem saraf, baik saraf pusat maupun saraf tepi. Karakteristiknya juga berbeda, seperti sensasi panas terbakar, tersengat listrik, tertusuk jarum, kesemutan, kebas, atau mati rasa.
Salah satu ciri khas nyeri saraf adalah rasa sakit yang dapat menjalar. Misalnya, nyeri pinggang yang menjalar hingga ke telapak kaki atau nyeri leher yang menjalar hingga ke tangan.
“Tidak semua nyeri pinggang disebabkan oleh saraf kejepit. Kalau nyerinya tidak menjalar, bisa saja berkaitan dengan sendi, otot, atau struktur lain di sekitar tulang belakang,” terang dr. Faqih.
Lebih lanjut, dr. Faqih menyampaikan sejumlah kondisi dapat meningkatkan risiko nyeri saraf. Di antaranya diabetes yang tidak terkontrol, saraf terjepit, kurang bergerak atau terlalu lama duduk, aktivitas yang dilakukan secara berulang, kehamilan, kelebihan berat badan, serta beberapa gangguan penyakit lainnya.
Ia mengingatkan masyarakat, khususnya penyandang diabetes, agar menjaga kadar gula darah tetap terkontrol dan menerapkan pola hidup sehat untuk membantu mencegah komplikasi, termasuk gangguan saraf. Aktivitas fisik dan menghindari gaya hidup sedentari juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan.
Masyarakat juga perlu menyesuaikan penanganan dengan jenis dan tingkat keparahan nyeri. Obat yang biasa digunakan untuk nyeri radang tidak selalu efektif untuk nyeri saraf. Nyeri saraf memerlukan penanganan sesuai penyebab dan kondisi pasien.
Selain pengobatan, penanganan nyeri dapat dilakukan secara bertahap melalui fisioterapi dan, bila diperlukan, tindakan lebih lanjut sesuai evaluasi dokter. Perbaikan postur tubuh, olahraga, menjaga berat badan ideal, serta berhenti merokok juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mencegah gangguan nyeri.
Masyarakat diimbau segera berkonsultasi dengan dokter apabila nyeri tidak membaik setelah istirahat dan penanganan awal, nyeri tiba-tiba menjadi berat, muncul sensasi seperti tersetrum, panas terbakar, mati rasa atau kebas, maupun ketika nyeri sudah mengganggu aktivitas dan kualitas tidur.
Pada akhir edukasi, dr. Faqih mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan sinyal nyeri yang diberikan tubuh. Diagnosis dan penanganan sedini mungkin dapat membantu menentukan terapi yang lebih sesuai. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini