Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 02 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Menghentikan konsumsi antibiotik saat gejala penyakit mulai membaik masih menjadi kebiasaan yang dilakukan sebagian orang. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak serius, baik bagi kesehatan diri sendiri maupun masyarakat secara luas.
Hal itu disampaikan Apoteker RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Abdurrahman, saat memberikan edukasi kepada pengunjung rumah sakit, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu memahami pentingnya menghabiskan antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan agar pengobatan berjalan efektif dan tidak memicu masalah kesehatan di kemudian hari.
"Obat antibiotik harus dikonsumsi sampai habis sesuai dosis, jadwal, dan lama penggunaan yang telah ditentukan dokter," jelasnya.
Abdurrahman menerangkan, antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Karena itu, antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, batuk pilek akibat virus, maupun sebagian besar radang tenggorokan.
Ia menjelaskan, ketika dokter meresepkan antibiotik, jumlah dosis dan lama pengobatan telah disesuaikan dengan jenis infeksi, tingkat keparahan penyakit, kondisi pasien, serta bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi.
Menurutnya, meski gejala seperti demam, nyeri, atau bengkak mulai berkurang setelah beberapa hari pengobatan, bukan berarti seluruh bakteri penyebab infeksi telah mati. Masih ada bakteri yang bertahan hidup dan harus dimusnahkan melalui pengobatan hingga tuntas.
Apabila penggunaan antibiotik dihentikan sebelum waktunya, bakteri yang masih hidup dapat berkembang biak kembali sehingga infeksi berpotensi kambuh dan menjadi lebih sulit diobati.
"Dalam beberapa kasus, pasien harus menjalani pengobatan yang lebih lama atau menggunakan antibiotik yang lebih kuat karena antibiotik sebelumnya sudah tidak lagi efektif," tuturnya.
Abdurrahman menambahkan, salah satu dampak paling serius akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah resistensi antibiotik. Kondisi ini terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat dibunuh oleh antibiotik yang sebelumnya efektif.
Bakteri yang telah resisten juga dapat menyebar kepada orang lain dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas.
Menurutnya, pasien yang mengalami infeksi akibat bakteri resisten berpotensi membutuhkan antibiotik yang lebih mahal, menjalani perawatan lebih lama di rumah sakit, hingga memiliki risiko komplikasi yang lebih besar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menggunakan antibiotik secara bijak dan hanya sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
"Penggunaan antibiotik yang bijak merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar, yaitu mempercepat kesembuhan, mencegah infeksi kambuh, mengurangi risiko resistensi antibiotik, serta menjaga agar antibiotik tetap efektif untuk mengobati berbagai infeksi bakteri di masa depan," pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Menghentikan konsumsi antibiotik saat gejala penyakit mulai membaik masih menjadi kebiasaan yang dilakukan sebagian orang. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan dampak serius, baik bagi kesehatan diri sendiri maupun masyarakat secara luas.
Hal itu disampaikan Apoteker RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak, Abdurrahman, saat memberikan edukasi kepada pengunjung rumah sakit, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu memahami pentingnya menghabiskan antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan agar pengobatan berjalan efektif dan tidak memicu masalah kesehatan di kemudian hari.
"Obat antibiotik harus dikonsumsi sampai habis sesuai dosis, jadwal, dan lama penggunaan yang telah ditentukan dokter," jelasnya.
Abdurrahman menerangkan, antibiotik merupakan obat yang digunakan untuk mengobati infeksi akibat bakteri dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit. Karena itu, antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu, batuk pilek akibat virus, maupun sebagian besar radang tenggorokan.
Ia menjelaskan, ketika dokter meresepkan antibiotik, jumlah dosis dan lama pengobatan telah disesuaikan dengan jenis infeksi, tingkat keparahan penyakit, kondisi pasien, serta bakteri yang diduga menjadi penyebab infeksi.
Menurutnya, meski gejala seperti demam, nyeri, atau bengkak mulai berkurang setelah beberapa hari pengobatan, bukan berarti seluruh bakteri penyebab infeksi telah mati. Masih ada bakteri yang bertahan hidup dan harus dimusnahkan melalui pengobatan hingga tuntas.
Apabila penggunaan antibiotik dihentikan sebelum waktunya, bakteri yang masih hidup dapat berkembang biak kembali sehingga infeksi berpotensi kambuh dan menjadi lebih sulit diobati.
"Dalam beberapa kasus, pasien harus menjalani pengobatan yang lebih lama atau menggunakan antibiotik yang lebih kuat karena antibiotik sebelumnya sudah tidak lagi efektif," tuturnya.
Abdurrahman menambahkan, salah satu dampak paling serius akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat adalah resistensi antibiotik. Kondisi ini terjadi ketika bakteri mengalami perubahan sehingga tidak lagi dapat dibunuh oleh antibiotik yang sebelumnya efektif.
Bakteri yang telah resisten juga dapat menyebar kepada orang lain dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena pilihan pengobatan menjadi semakin terbatas.
Menurutnya, pasien yang mengalami infeksi akibat bakteri resisten berpotensi membutuhkan antibiotik yang lebih mahal, menjalani perawatan lebih lama di rumah sakit, hingga memiliki risiko komplikasi yang lebih besar.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menggunakan antibiotik secara bijak dan hanya sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
"Penggunaan antibiotik yang bijak merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar, yaitu mempercepat kesembuhan, mencegah infeksi kambuh, mengurangi risiko resistensi antibiotik, serta menjaga agar antibiotik tetap efektif untuk mengobati berbagai infeksi bakteri di masa depan," pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini