Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 16 July 2026 |
KALBARONLINE.com – Krisis air bersih yang telah berlangsung sekitar dua bulan di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, dikeluhkan warga karena hingga kini belum mendapat solusi yang jelas dari pemerintah daerah.
Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut juga dikhawatirkan mencoreng citra Kabupaten Kayong Utara yang akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2026.
Akibat pasokan air bersih yang tidak mengalir, warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit, berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp800 ribu setiap bulan.
"Satu bulan siapkan saja Rp500 ribu sampai Rp800 ribu untuk beli air. Kami sudah bosan mengeluh persoalan air, tapi sampai sekarang tidak ada solusi dari pemerintah," ujar Bayu, salah seorang warga.
Menurut Bayu, persoalan distribusi air mulai terasa semakin parah sejak pemasangan meteran air. Sebelumnya, meski debit air menurun saat musim kemarau, warga masih bisa mendapatkan pasokan air dengan menunggu hingga tengah malam ketika tekanan air meningkat.
"Dulu sebelum ada meteran, kami sedot air tengah malam masih bisa dapat air. Tapi sekarang sampai subuh pun kami sedot air, tetap tidak ada yang mengalir," tuturnya.
Kondisi itu membuat warga bergantung pada air yang dibeli dari penjual keliling untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.
Warga menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menyangkut pelayanan dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Di sisi lain, Bayu mengingatkan bahwa Kabupaten Kayong Utara akan menjadi tuan rumah MTQ XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat dalam waktu dekat. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar persoalan air bersih tidak menjadi sorotan para tamu dari berbagai kabupaten dan kota di Kalbar.
"Jangan sampai persoalan ini menjadi kesan buruk bagi kita sebagai tuan rumah," katanya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama pengelola layanan air bersih segera mengidentifikasi penyebab terganggunya distribusi air dan menormalkan kembali pasokan sebelum pelaksanaan MTQ dimulai.
Menurut mereka, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, baik untuk masyarakat maupun ribuan peserta dan tamu yang akan hadir pada perhelatan MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara maupun pihak pengelola layanan air bersih terkait penyebab terganggunya distribusi air selama dua bulan terakhir maupun langkah penanganan yang akan dilakukan. (Sans)
KALBARONLINE.com – Krisis air bersih yang telah berlangsung sekitar dua bulan di Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, dikeluhkan warga karena hingga kini belum mendapat solusi yang jelas dari pemerintah daerah.
Selain mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut juga dikhawatirkan mencoreng citra Kabupaten Kayong Utara yang akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat pada Agustus 2026.
Akibat pasokan air bersih yang tidak mengalir, warga terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Biaya yang harus dikeluarkan pun tidak sedikit, berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp800 ribu setiap bulan.
"Satu bulan siapkan saja Rp500 ribu sampai Rp800 ribu untuk beli air. Kami sudah bosan mengeluh persoalan air, tapi sampai sekarang tidak ada solusi dari pemerintah," ujar Bayu, salah seorang warga.
Menurut Bayu, persoalan distribusi air mulai terasa semakin parah sejak pemasangan meteran air. Sebelumnya, meski debit air menurun saat musim kemarau, warga masih bisa mendapatkan pasokan air dengan menunggu hingga tengah malam ketika tekanan air meningkat.
"Dulu sebelum ada meteran, kami sedot air tengah malam masih bisa dapat air. Tapi sekarang sampai subuh pun kami sedot air, tetap tidak ada yang mengalir," tuturnya.
Kondisi itu membuat warga bergantung pada air yang dibeli dari penjual keliling untuk memenuhi kebutuhan memasak, mandi, mencuci, hingga keperluan rumah tangga lainnya.
Warga menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menyangkut pelayanan dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Di sisi lain, Bayu mengingatkan bahwa Kabupaten Kayong Utara akan menjadi tuan rumah MTQ XXXIV Tingkat Provinsi Kalimantan Barat dalam waktu dekat. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar persoalan air bersih tidak menjadi sorotan para tamu dari berbagai kabupaten dan kota di Kalbar.
"Jangan sampai persoalan ini menjadi kesan buruk bagi kita sebagai tuan rumah," katanya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama pengelola layanan air bersih segera mengidentifikasi penyebab terganggunya distribusi air dan menormalkan kembali pasokan sebelum pelaksanaan MTQ dimulai.
Menurut mereka, ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi, baik untuk masyarakat maupun ribuan peserta dan tamu yang akan hadir pada perhelatan MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kayong Utara maupun pihak pengelola layanan air bersih terkait penyebab terganggunya distribusi air selama dua bulan terakhir maupun langkah penanganan yang akan dilakukan. (Sans)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini