Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 21 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar memprediksi potensi hujan masih rendah sehingga risiko karhutla tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, mengatakan hujan yang berpotensi turun pada 23-26 Agustus hanya terjadi di sebagian wilayah Kalbar, terutama bagian utara dan timur.
“Potensi hujan ada, terutama di wilayah utara dan timur, seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, hingga Sanggau bagian utara. Namun intensitasnya ringan dan tidak merata,” kata Soetikno saat dihubungi Jumat (21/8/2026).
Sementara itu, sejumlah wilayah yang saat ini memiliki titik karhutla justru diprediksi memiliki peluang hujan yang sangat kecil. Di antaranya Kabupaten Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara, dan Ketapang.
Kondisi tersebut membuat potensi karhutla diperkirakan masih tinggi setidaknya hingga September.
“Diprediksikan bulan September itu masih rendah potensi hujannya, sehingga karhutla masih berpotensi berlanjut sampai setidaknya bulan September, bahkan hingga akhir September,” ujarnya.
Selain minim hujan, kondisi angin juga menjadi perhatian BMKG. Saat ini, angin di wilayah perairan barat Kalbar, termasuk kawasan pesisir Ketapang, terpantau cukup kencang.
Soetikno mengatakan arah angin dominan bergerak dari tenggara hingga selatan. Kondisi ini berpotensi membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik karhutla menuju wilayah lain.
“Ketika di wilayah Ketapang, Kayong Utara yang di sana ada banyak titik karhutla, asapnya bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio hingga ke Kota Pontianak,” jelas Soetikno.
BMKG juga mewaspadai kemungkinan asap karhutla terbawa hingga ke luar wilayah Indonesia atau menimbulkan asap lintas batas ke negara tetangga.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi karhutla dan dampak asap hingga beberapa pekan ke depan.
Soetikno menyebut kondisi curah hujan diperkirakan mulai kembali normal pada Oktober. Namun, normalisasi tersebut tidak berarti akan langsung terjadi pada 1 Oktober.
“Di bulan Oktober itu sudah akan mulai normal curah hujannya, bisa saja tanggal 2 atau mungkin tanggal 15,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalbar memprediksi potensi hujan masih rendah sehingga risiko karhutla tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar, Soetikno, mengatakan hujan yang berpotensi turun pada 23-26 Agustus hanya terjadi di sebagian wilayah Kalbar, terutama bagian utara dan timur.
“Potensi hujan ada, terutama di wilayah utara dan timur, seperti Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, hingga Sanggau bagian utara. Namun intensitasnya ringan dan tidak merata,” kata Soetikno saat dihubungi Jumat (21/8/2026).
Sementara itu, sejumlah wilayah yang saat ini memiliki titik karhutla justru diprediksi memiliki peluang hujan yang sangat kecil. Di antaranya Kabupaten Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara, dan Ketapang.
Kondisi tersebut membuat potensi karhutla diperkirakan masih tinggi setidaknya hingga September.
“Diprediksikan bulan September itu masih rendah potensi hujannya, sehingga karhutla masih berpotensi berlanjut sampai setidaknya bulan September, bahkan hingga akhir September,” ujarnya.
Selain minim hujan, kondisi angin juga menjadi perhatian BMKG. Saat ini, angin di wilayah perairan barat Kalbar, termasuk kawasan pesisir Ketapang, terpantau cukup kencang.
Soetikno mengatakan arah angin dominan bergerak dari tenggara hingga selatan. Kondisi ini berpotensi membawa asap dari wilayah yang memiliki banyak titik karhutla menuju wilayah lain.
“Ketika di wilayah Ketapang, Kayong Utara yang di sana ada banyak titik karhutla, asapnya bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio hingga ke Kota Pontianak,” jelas Soetikno.
BMKG juga mewaspadai kemungkinan asap karhutla terbawa hingga ke luar wilayah Indonesia atau menimbulkan asap lintas batas ke negara tetangga.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi karhutla dan dampak asap hingga beberapa pekan ke depan.
Soetikno menyebut kondisi curah hujan diperkirakan mulai kembali normal pada Oktober. Namun, normalisasi tersebut tidak berarti akan langsung terjadi pada 1 Oktober.
“Di bulan Oktober itu sudah akan mulai normal curah hujannya, bisa saja tanggal 2 atau mungkin tanggal 15,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini