Ketapang    

Stok Beras 2.200 Ton, Bulog Ketapang Prioritaskan Bantuan untuk 76 Ribu Penerima

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Friday, 21 August 2026
Stok Beras 2.200 Ton, Bulog Ketapang Prioritaskan Bantuan untuk 76 Ribu Penerima
Bulog Ketapang punya stok 2.200 ton beras dan memprioritaskan bantuan pangan bagi 76 ribu penerima hingga September 2026 (Grafis: kalbaronline.com)
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Perum Bulog Kantor Cabang Ketapang memastikan stok beras untuk kebutuhan masyarakat di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara masih aman hingga Kamis (20/8/2026).

Saat ini, Bulog Ketapang menguasai stok operasional sekitar 2.200 ton beras. Sebanyak 1.200 ton sudah tersedia di gudang, sementara 1.000 ton lainnya masih dalam perjalanan menuju Kantor Cabang Ketapang.

Pemimpin Perum Bulog Kantor Cabang Ketapang, Jarau Matu, mengatakan stok tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung berbagai program pemerintah.

"Untuk stok Perum Bulog Kantor Cabang Ketapang pada saat ini di posisi 1.200 ton. Dan ada dalam perjalanan sekitar 1.000 ton. Artinya stok operasional kita itu ada di 2.200 ton," kata Jarau saat dikonfirmasi, Kamis (20/8/2026).

Meski stok dinilai aman, Bulog Ketapang kini harus mengejar kebutuhan penyaluran bantuan pangan yang jumlahnya cukup besar.

Untuk periode Juli hingga September 2026, alokasi bantuan pangan untuk masyarakat di Ketapang dan Kayong Utara mencapai sekitar 2.300 ton beras.

Bantuan tersebut diperuntukkan bagi sekitar 76.000 Penerima Bantuan Pangan (PBP). Masing-masing penerima mendapatkan 30 kilogram beras.

"Alokasi Juli sampai September. Itu penerimanya ada 76.000 penerima bantuan pangan. Dimana 76.000 ini satu orang PBP dapat 30 kilogram beras. Jadi 30 kilogram dikali 76.000, itulah sekitar 2.300 ton," jelasnya.

Artinya, kebutuhan bantuan pangan hingga September hampir menyamai, bahkan sedikit melampaui stok operasional Bulog Ketapang yang saat ini berada di angka sekitar 2.200 ton.

Untuk memastikan penyaluran tetap terpenuhi, Bulog Ketapang masih membuka pemesanan beras tambahan.

Di tengah kebutuhan tersebut, Bulog juga harus mengatur kapasitas gudang yang hanya mampu menampung sekitar 2.000 ton. Karena itu, kedatangan dan pengelolaan stok dilakukan secara bertahap.

Bantuan Pangan Jadi Prioritas

Dengan adanya batas waktu penyaluran bantuan pangan hingga 30 September 2026, Bulog Ketapang memilih memprioritaskan program tersebut dibandingkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Jarau mengatakan, SPHP untuk sementara direm karena program tersebut masih memiliki waktu penyaluran hingga Desember 2026.

"Yang kita prioritaskan saat ini jangka pendeknya karena 30 September itu harus selesai. Jadi yang prioritas kita salurkan adalah bantuan pangan. Untuk SPHP kita rem dulu. Karena kalau SPHP kan sampai bulan Desember," ujarnya.

Menurut Jarau, prioritas diberikan agar masyarakat yang masuk dalam data penerima bantuan dapat memperoleh haknya terlebih dahulu sebelum batas waktu penyaluran berakhir.

"Paling tidak masyarakat yang tidak mampu ini benar-benar sesuai data pemerintah inilah yang diprioritaskan dulu. Dan waktunya ada sampai 30 September terakhir penyaluran informasinya," katanya.

Bantuan pangan tersebut diberikan secara gratis kepada masyarakat penerima. Beras dari Bulog disalurkan hingga tingkat desa, kemudian pemerintah desa membagikannya berdasarkan data penerima yang telah ditetapkan melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Penerima bantuan umumnya berasal dari kelompok masyarakat pada desil 1 hingga desil 4.

Distribusi Beras Terkendala Kondisi Geografis

Persoalan Bulog Ketapang bukan hanya soal ketersediaan stok. Luasnya wilayah juga menjadi tantangan tersendiri dalam mendistribusikan beras, khususnya menuju kawasan pedalaman dan kepulauan.

Sejumlah wilayah masih mengandalkan jalur sungai untuk distribusi. Saat musim kemarau, debit air yang menurun membuat pengiriman beras menuju wilayah hulu menjadi lebih sulit.

"Kalau pendistribusian sih lebih berat itu di geografis. Di Kecamatan Hulu Sungai ketika musim kering agak sulit menyalurkan beras karena debit air yang berkurang. Sangat minim daerah hulu sungai, daerah-daerah hulu yang penyalurannya melalui sungai," ungkap Jarau.

Sementara di Kabupaten Kayong Utara, tantangan distribusi lebih banyak dipengaruhi kondisi laut. Gelombang tinggi dapat menghambat pengiriman beras menuju wilayah kepulauan.

"Nah kalau Kayong Utara ini biasanya ombak laut pada saat ini besar, sedang tinggi. Nah itu yang jadi kesulitan juga tantangan alamnya untuk wilayah pulau," katanya.

Kondisi tersebut kembali berubah ketika memasuki musim hujan. Debit sungai biasanya meningkat sehingga jalur sungai lebih mudah dilalui.

Namun, akses jalan menuju wilayah pedalaman justru berpotensi menjadi kendala. Jalan yang berlumpur dapat menyulitkan kendaraan pengangkut beras mencapai wilayah tujuan.

"Kalau musim hujan biasanya akses jalan. Di sungai lancar. Cuma akses menuju ke hulu sungai ini lagi yang agak kesulitan. Kalau itu ada lumpur segala macam, sulit juga," pungkasnya. (Adi LC)

Artikel Selanjutnya
Polsek Tumbang Titi Bongkar Dugaan Komplotan Curanmor, 9 Motor Diamankan
Friday, 21 August 2026
Artikel Sebelumnya
Kebakaran Pasar Sungai Duri Bengkayang, 50 Ruko Ludes Dilalap Api
Friday, 21 August 2026

Berita terkait