Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Saturday, 22 August 2026 |
KALBARONLINE.com – Tiga pelari asal Pontianak memilih cara tak biasa untuk merayakan semangat kemerdekaan. Mereka menantang diri menempuh perjalanan sekitar 350 kilometer dari Pontianak, Indonesia menuju Kuching, Malaysia dengan sistem lari estafet.
Ketiganya adalah Thomas, Tju Hok Ui, dan Sutrisno yang tergabung dalam Uber Running Crew.
Start perjalanan dilepas Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dari Anzon Toyota Pontianak, Sabtu (22/8/2026) pagi.
Dari titik start, ketiganya bersama rekan pelari lainnya bergerak hingga bundaran Gofaraya, Kubu Raya. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju PLBN Entikong sebelum memasuki wilayah Malaysia melalui Tebedu Immigration Complex.
Mereka dijadwalkan menyelesaikan perjalanan dan mencapai garis finis di Cat Statue, Sarawak, Senin (24/8/2026) pagi.
Edi Rusdi Kamtono menyebut kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tantangan fisik, tetapi juga membawa semangat olahraga dan persahabatan Indonesia-Malaysia.
“Ini kegiatan yang positif dan membanggakan. Para pelari tidak hanya menantang diri menempuh jarak jauh, tetapi juga membawa nama Pontianak dalam semangat kemerdekaan, sportivitas, dan persahabatan dengan negara tetangga,” ujar Edi.
Menurut Edi, perjalanan tersebut juga dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan masyarakat di kawasan perbatasan.
Ia berharap kegiatan olahraga lintas negara seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi agenda bersama komunitas olahraga Pontianak dan Malaysia.
“Kita berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi event-event olahraga lintas batas lainnya,” katanya.
Salah satu pelari, Sutrisno, menjelaskan tantangan sejauh 350 kilometer tersebut tidak ditempuh seorang diri secara terus-menerus. Mereka menggunakan sistem estafet dengan pembagian waktu lari dan istirahat.
Setiap pelari akan bergantian berlari sekitar 60 menit atau menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer sebelum berganti dengan pelari berikutnya.
Pembagian tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi fisik sekaligus mengatur tenaga selama perjalanan panjang dari Pontianak menuju Kuching.
“Untuk menempuh jarak 350 kilometer ini, kami merancangnya dalam sistem estafet bergiliran. Tujuannya agar setiap pelari dapat menyelesaikan tantangan dengan kondisi yang tetap baik,” jelasnya.
Sutrisno mengatakan para pelari tidak menjalani program latihan fisik khusus untuk tantangan tersebut. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan lari jarak jauh dan memiliki pengalaman mengikuti marathon.
Meski demikian, persiapan perjalanan dilakukan cukup panjang. Koordinasi administrasi dan perizinan telah dilakukan sejak awal tahun, termasuk dengan Konsulat Malaysia di Pontianak, KJRI di Kuching, serta sejumlah instansi terkait di Malaysia.
Setelah melewati perbatasan dan masuk ke Malaysia melalui Tebedu Immigration Complex, para pelari Pontianak akan mendapat pendampingan dari pelari Malaysia yang dikoordinasikan Alpha Sport Event.
Bagi Sutrisno, keterlibatan pelari Malaysia menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Selain menyelesaikan tantangan olahraga, kegiatan ini diharapkan membangun hubungan antarkomunitas dari dua negara yang berbagi wilayah perbatasan.
“Dengan kegiatan seperti ini, kami berharap dapat menstimulasi kegiatan lari lain antar dua wilayah perbatasan,” katanya.
Menurutnya, jaringan persahabatan yang terbentuk dari komunitas pelari juga dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk keikutsertaan bersama dalam berbagai event olahraga di Indonesia maupun Malaysia.
Ia berharap kegiatan olahraga lintas batas ke depan dapat dikembangkan menjadi bagian dari kerja sama yang lebih luas antara masyarakat Indonesia dan Malaysia, khususnya di bidang olahraga.
“Dengan adanya jaringan persahabatan antarpelari, kita bisa saling meningkatkan kolaborasi dan keikutsertaan event olahraga di masing-masing negara. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat diakomodir lebih lanjut,” pungkasnya. (*)
KALBARONLINE.com – Tiga pelari asal Pontianak memilih cara tak biasa untuk merayakan semangat kemerdekaan. Mereka menantang diri menempuh perjalanan sekitar 350 kilometer dari Pontianak, Indonesia menuju Kuching, Malaysia dengan sistem lari estafet.
Ketiganya adalah Thomas, Tju Hok Ui, dan Sutrisno yang tergabung dalam Uber Running Crew.
Start perjalanan dilepas Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono dari Anzon Toyota Pontianak, Sabtu (22/8/2026) pagi.
Dari titik start, ketiganya bersama rekan pelari lainnya bergerak hingga bundaran Gofaraya, Kubu Raya. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju PLBN Entikong sebelum memasuki wilayah Malaysia melalui Tebedu Immigration Complex.
Mereka dijadwalkan menyelesaikan perjalanan dan mencapai garis finis di Cat Statue, Sarawak, Senin (24/8/2026) pagi.
Edi Rusdi Kamtono menyebut kegiatan tersebut bukan hanya menjadi tantangan fisik, tetapi juga membawa semangat olahraga dan persahabatan Indonesia-Malaysia.
“Ini kegiatan yang positif dan membanggakan. Para pelari tidak hanya menantang diri menempuh jarak jauh, tetapi juga membawa nama Pontianak dalam semangat kemerdekaan, sportivitas, dan persahabatan dengan negara tetangga,” ujar Edi.
Menurut Edi, perjalanan tersebut juga dapat menjadi momentum untuk mempererat hubungan masyarakat di kawasan perbatasan.
Ia berharap kegiatan olahraga lintas negara seperti ini tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi agenda bersama komunitas olahraga Pontianak dan Malaysia.
“Kita berharap kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi event-event olahraga lintas batas lainnya,” katanya.
Salah satu pelari, Sutrisno, menjelaskan tantangan sejauh 350 kilometer tersebut tidak ditempuh seorang diri secara terus-menerus. Mereka menggunakan sistem estafet dengan pembagian waktu lari dan istirahat.
Setiap pelari akan bergantian berlari sekitar 60 menit atau menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer sebelum berganti dengan pelari berikutnya.
Pembagian tersebut diperlukan untuk menjaga kondisi fisik sekaligus mengatur tenaga selama perjalanan panjang dari Pontianak menuju Kuching.
“Untuk menempuh jarak 350 kilometer ini, kami merancangnya dalam sistem estafet bergiliran. Tujuannya agar setiap pelari dapat menyelesaikan tantangan dengan kondisi yang tetap baik,” jelasnya.
Sutrisno mengatakan para pelari tidak menjalani program latihan fisik khusus untuk tantangan tersebut. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan lari jarak jauh dan memiliki pengalaman mengikuti marathon.
Meski demikian, persiapan perjalanan dilakukan cukup panjang. Koordinasi administrasi dan perizinan telah dilakukan sejak awal tahun, termasuk dengan Konsulat Malaysia di Pontianak, KJRI di Kuching, serta sejumlah instansi terkait di Malaysia.
Setelah melewati perbatasan dan masuk ke Malaysia melalui Tebedu Immigration Complex, para pelari Pontianak akan mendapat pendampingan dari pelari Malaysia yang dikoordinasikan Alpha Sport Event.
Bagi Sutrisno, keterlibatan pelari Malaysia menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Selain menyelesaikan tantangan olahraga, kegiatan ini diharapkan membangun hubungan antarkomunitas dari dua negara yang berbagi wilayah perbatasan.
“Dengan kegiatan seperti ini, kami berharap dapat menstimulasi kegiatan lari lain antar dua wilayah perbatasan,” katanya.
Menurutnya, jaringan persahabatan yang terbentuk dari komunitas pelari juga dapat membuka peluang kolaborasi lebih luas, termasuk keikutsertaan bersama dalam berbagai event olahraga di Indonesia maupun Malaysia.
Ia berharap kegiatan olahraga lintas batas ke depan dapat dikembangkan menjadi bagian dari kerja sama yang lebih luas antara masyarakat Indonesia dan Malaysia, khususnya di bidang olahraga.
“Dengan adanya jaringan persahabatan antarpelari, kita bisa saling meningkatkan kolaborasi dan keikutsertaan event olahraga di masing-masing negara. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat diakomodir lebih lanjut,” pungkasnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini