Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 04 September 2026 |
KALBARONLINE.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, hingga akhir Agustus 2026 diperkirakan telah berdampak terhadap lahan seluas sekitar 155 hektare.
Karhutla tersebut terjadi di Desa Nanga Tikan dan Desa Beloyang. Kondisi ini menjadi perhatian dalam kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Melawi bersama Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI ke Kecamatan Belimbing Hulu, Jumat (4/9/2026).
Rombongan dipimpin Wakil Bupati Melawi Malin, S.H., didampingi Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI Brigjen TNI Lukman Arif dan Wakapolres Melawi Kompol Aang Permana. Rombongan diterima di Kantor Camat Belimbing Hulu yang sekaligus dimanfaatkan sebagai Posko Karhutla.
Camat Belimbing Hulu Kostantinus Borong memaparkan perkembangan karhutla di wilayahnya. Ia menyebutkan, kebakaran di Desa Nanga Tikan pertama kali diketahui pada Jumat (29/8/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
Api terlihat dari kawasan sisi jalan yang menghubungkan antardesa. Hingga kunjungan berlangsung, kobaran api di Desa Nanga Tikan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan.
Berdasarkan pendataan sementara pemerintah kecamatan, area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare. Lahan yang terbakar sebagian besar merupakan perkebunan kelapa sawit dan karet yang dikelola masyarakat.
Sementara itu, karhutla di Desa Beloyang dengan luas sekitar lima hektare telah berhasil ditangani dan dipadamkan. Pemerintah kecamatan tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat bara atau titik api yang kembali muncul.
“Kondisi api di Desa Nanga Tikan hingga saat ini masih aktif. Kepala desa harus memimpin penanganan secara langsung di lapangan bersama seluruh unsur terkait,” ujar Kostantinus.
Selain dua lokasi tersebut, pemerintah kecamatan menemukan titik api baru di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Sinar Dinamika Kapuas, tepatnya di sekitar jalur poros utama. Lokasi tersebut terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan api menjalar ke wilayah lain.
Kostantinus mengatakan, karakter wilayah Belimbing Hulu yang banyak terdiri dari kawasan perbukitan membuat proses pemadaman tidak mudah. Kondisi tersebut diperparah kemarau panjang yang menyebabkan ketersediaan sumber air semakin terbatas.
“Upaya pemadaman terkendala minimnya ketersediaan air akibat kemarau panjang. Kekeringan ini tidak hanya menghambat penanganan karhutla, tetapi juga menyebabkan masyarakat di seluruh Kecamatan Belimbing Hulu mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, pemerintah kecamatan bersama unsur Muspika telah membentuk posko siaga bencana. Sosialisasi kepada masyarakat juga diperkuat dengan melibatkan pemerintah desa, media sosial, tempat ibadah, serta berbagai sarana komunikasi yang mudah dijangkau warga.
Pemerintah Kecamatan Belimbing Hulu juga telah mengusulkan pengadaan sarana dan prasarana pemadam kebakaran melalui APBD Kabupaten Melawi Tahun Anggaran 2027. Penambahan fasilitas tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan respons cepat apabila terjadi kebakaran.
Wakil Bupati Melawi Malin menegaskan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun relawan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha.
“Hari ini kita berbicara mengenai bencana. Tundalah seluruh kegiatan yang berkaitan dengan bakar-membakar, baik untuk membuka ladang maupun kebun. Sumber api dapat muncul karena faktor disengaja ataupun tidak disengaja,” tegas Malin.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati selama kondisi cuaca panas dan kemarau masih berlangsung.
“Membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan sisa api pembakaran di kawasan hutan dan perkebunan dapat berdampak fatal. Karena itu, kita harus meningkatkan kehati-hatian dan kepedulian bersama,” lanjutnya.
Malin juga menyoroti dampak kemarau terhadap ketersediaan air bersih. Menurutnya, kekeringan menimbulkan persoalan berlapis karena selain memperbesar potensi kebakaran, kondisi tersebut juga menghambat pemadaman dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ia mengajak pemerintah kecamatan dan desa, TNI-Polri, masyarakat, perusahaan, serta unsur lainnya memperkuat koordinasi dan gotong royong menghadapi kondisi tersebut.
Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI Brigjen TNI Lukman Arif menekankan strategi pemadaman tidak hanya berfokus pada lokasi api, tetapi juga harus diarahkan untuk menghentikan pergerakan api agar tidak meluas menuju permukiman maupun wilayah berisiko tinggi.
Menurutnya, setiap tindakan pemadaman harus memperhitungkan arah angin dan penyebaran api, karakteristik medan, keselamatan personel, serta perlindungan masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
“Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, ketersediaan peralatan, sumber air, dan dukungan anggaran. Penanganan tidak boleh hanya dilakukan setelah kebakaran meluas,” ujarnya.
Brigjen TNI Lukman Arif juga mengingatkan agar penanganan karhutla tidak sepenuhnya bergantung kepada relawan. Seluruh unsur memiliki tanggung jawab sesuai tugas dan kapasitas masing-masing, termasuk pemerintah, TNI-Polri, pemerintah desa, perusahaan, serta masyarakat.
Sementara itu, Wakapolres Melawi Kompol Aang Permana menyampaikan Satgas Karhutla telah dibentuk secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga kecamatan. Ia meminta seluruh kepala desa memastikan keberadaan dan kesiapan Satgas Karhutla di wilayah masing-masing.
Belimbing Hulu, lanjutnya, memiliki karakter wilayah yang perlu mendapatkan perhatian karena sebagian kawasannya berupa perbukitan. Aktivitas masyarakat yang berpotensi menghasilkan sumber api juga perlu mendapatkan pengawasan lebih ketat selama kondisi kemarau.
“Kami meminta aktivitas warga seperti berburu, memancing, hingga pendakian bukit yang memicu pembuatan api unggun dihentikan sementara demi mencegah munculnya titik api baru,” katanya.
Kompol Aang juga mengingatkan dampak asap kebakaran terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Karena itu, Satgas Karhutla di tingkat desa maupun kecamatan diminta aktif melakukan pemetaan wilayah rawan, memperkuat imbauan kepada warga, serta segera melaporkan perkembangan kondisi di lapangan kepada Satgas Kabupaten apabila membutuhkan dukungan tambahan personel maupun peralatan.
Dalam kunjungan tersebut, Pemkab Melawi juga menyerahkan bantuan untuk mendukung operasional Posko Karhutla Kecamatan Belimbing Hulu berupa beras, paket kebutuhan pokok, serta bantuan uang tunai.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan personel dan relawan yang menjalankan tugas pemantauan maupun pemadaman di lapangan, terutama di tengah kondisi kemarau dan keterbatasan sumber daya air.
Pemkab Melawi kembali mengingatkan masyarakat untuk sementara waktu menunda aktivitas pembakaran yang berpotensi memunculkan api. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
Dengan kondisi karhutla yang masih terjadi dan ketersediaan air yang semakin terbatas, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait terus memperkuat pencegahan dan penanganan agar kebakaran tidak semakin meluas serta dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.
KALBARONLINE.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, hingga akhir Agustus 2026 diperkirakan telah berdampak terhadap lahan seluas sekitar 155 hektare.
Karhutla tersebut terjadi di Desa Nanga Tikan dan Desa Beloyang. Kondisi ini menjadi perhatian dalam kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Melawi bersama Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI ke Kecamatan Belimbing Hulu, Jumat (4/9/2026).
Rombongan dipimpin Wakil Bupati Melawi Malin, S.H., didampingi Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI Brigjen TNI Lukman Arif dan Wakapolres Melawi Kompol Aang Permana. Rombongan diterima di Kantor Camat Belimbing Hulu yang sekaligus dimanfaatkan sebagai Posko Karhutla.
Camat Belimbing Hulu Kostantinus Borong memaparkan perkembangan karhutla di wilayahnya. Ia menyebutkan, kebakaran di Desa Nanga Tikan pertama kali diketahui pada Jumat (29/8/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
Api terlihat dari kawasan sisi jalan yang menghubungkan antardesa. Hingga kunjungan berlangsung, kobaran api di Desa Nanga Tikan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan.
Berdasarkan pendataan sementara pemerintah kecamatan, area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 150 hektare. Lahan yang terbakar sebagian besar merupakan perkebunan kelapa sawit dan karet yang dikelola masyarakat.
Sementara itu, karhutla di Desa Beloyang dengan luas sekitar lima hektare telah berhasil ditangani dan dipadamkan. Pemerintah kecamatan tetap melakukan pemantauan untuk memastikan tidak terdapat bara atau titik api yang kembali muncul.
“Kondisi api di Desa Nanga Tikan hingga saat ini masih aktif. Kepala desa harus memimpin penanganan secara langsung di lapangan bersama seluruh unsur terkait,” ujar Kostantinus.
Selain dua lokasi tersebut, pemerintah kecamatan menemukan titik api baru di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Sinar Dinamika Kapuas, tepatnya di sekitar jalur poros utama. Lokasi tersebut terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan api menjalar ke wilayah lain.
Kostantinus mengatakan, karakter wilayah Belimbing Hulu yang banyak terdiri dari kawasan perbukitan membuat proses pemadaman tidak mudah. Kondisi tersebut diperparah kemarau panjang yang menyebabkan ketersediaan sumber air semakin terbatas.
“Upaya pemadaman terkendala minimnya ketersediaan air akibat kemarau panjang. Kekeringan ini tidak hanya menghambat penanganan karhutla, tetapi juga menyebabkan masyarakat di seluruh Kecamatan Belimbing Hulu mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Untuk meningkatkan kesiapsiagaan, pemerintah kecamatan bersama unsur Muspika telah membentuk posko siaga bencana. Sosialisasi kepada masyarakat juga diperkuat dengan melibatkan pemerintah desa, media sosial, tempat ibadah, serta berbagai sarana komunikasi yang mudah dijangkau warga.
Pemerintah Kecamatan Belimbing Hulu juga telah mengusulkan pengadaan sarana dan prasarana pemadam kebakaran melalui APBD Kabupaten Melawi Tahun Anggaran 2027. Penambahan fasilitas tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kemampuan respons cepat apabila terjadi kebakaran.
Wakil Bupati Melawi Malin menegaskan karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun relawan, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha.
“Hari ini kita berbicara mengenai bencana. Tundalah seluruh kegiatan yang berkaitan dengan bakar-membakar, baik untuk membuka ladang maupun kebun. Sumber api dapat muncul karena faktor disengaja ataupun tidak disengaja,” tegas Malin.
Ia meminta masyarakat lebih berhati-hati selama kondisi cuaca panas dan kemarau masih berlangsung.
“Membuang puntung rokok sembarangan atau meninggalkan sisa api pembakaran di kawasan hutan dan perkebunan dapat berdampak fatal. Karena itu, kita harus meningkatkan kehati-hatian dan kepedulian bersama,” lanjutnya.
Malin juga menyoroti dampak kemarau terhadap ketersediaan air bersih. Menurutnya, kekeringan menimbulkan persoalan berlapis karena selain memperbesar potensi kebakaran, kondisi tersebut juga menghambat pemadaman dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Ia mengajak pemerintah kecamatan dan desa, TNI-Polri, masyarakat, perusahaan, serta unsur lainnya memperkuat koordinasi dan gotong royong menghadapi kondisi tersebut.
Ketua Tim Sosialisasi Satgas Karhutla Mabes TNI Brigjen TNI Lukman Arif menekankan strategi pemadaman tidak hanya berfokus pada lokasi api, tetapi juga harus diarahkan untuk menghentikan pergerakan api agar tidak meluas menuju permukiman maupun wilayah berisiko tinggi.
Menurutnya, setiap tindakan pemadaman harus memperhitungkan arah angin dan penyebaran api, karakteristik medan, keselamatan personel, serta perlindungan masyarakat di sekitar lokasi terdampak.
“Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, ketersediaan peralatan, sumber air, dan dukungan anggaran. Penanganan tidak boleh hanya dilakukan setelah kebakaran meluas,” ujarnya.
Brigjen TNI Lukman Arif juga mengingatkan agar penanganan karhutla tidak sepenuhnya bergantung kepada relawan. Seluruh unsur memiliki tanggung jawab sesuai tugas dan kapasitas masing-masing, termasuk pemerintah, TNI-Polri, pemerintah desa, perusahaan, serta masyarakat.
Sementara itu, Wakapolres Melawi Kompol Aang Permana menyampaikan Satgas Karhutla telah dibentuk secara berjenjang, mulai dari tingkat kabupaten hingga kecamatan. Ia meminta seluruh kepala desa memastikan keberadaan dan kesiapan Satgas Karhutla di wilayah masing-masing.
Belimbing Hulu, lanjutnya, memiliki karakter wilayah yang perlu mendapatkan perhatian karena sebagian kawasannya berupa perbukitan. Aktivitas masyarakat yang berpotensi menghasilkan sumber api juga perlu mendapatkan pengawasan lebih ketat selama kondisi kemarau.
“Kami meminta aktivitas warga seperti berburu, memancing, hingga pendakian bukit yang memicu pembuatan api unggun dihentikan sementara demi mencegah munculnya titik api baru,” katanya.
Kompol Aang juga mengingatkan dampak asap kebakaran terhadap kesehatan masyarakat. Paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan.
Karena itu, Satgas Karhutla di tingkat desa maupun kecamatan diminta aktif melakukan pemetaan wilayah rawan, memperkuat imbauan kepada warga, serta segera melaporkan perkembangan kondisi di lapangan kepada Satgas Kabupaten apabila membutuhkan dukungan tambahan personel maupun peralatan.
Dalam kunjungan tersebut, Pemkab Melawi juga menyerahkan bantuan untuk mendukung operasional Posko Karhutla Kecamatan Belimbing Hulu berupa beras, paket kebutuhan pokok, serta bantuan uang tunai.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan personel dan relawan yang menjalankan tugas pemantauan maupun pemadaman di lapangan, terutama di tengah kondisi kemarau dan keterbatasan sumber daya air.
Pemkab Melawi kembali mengingatkan masyarakat untuk sementara waktu menunda aktivitas pembakaran yang berpotensi memunculkan api. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
Dengan kondisi karhutla yang masih terjadi dan ketersediaan air yang semakin terbatas, pemerintah daerah bersama seluruh unsur terkait terus memperkuat pencegahan dan penanganan agar kebakaran tidak semakin meluas serta dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini