Ketapang    

Harga Sawit Petani Ketapang-Kayong Utara Tetap Stabil di Tengah Kemarau Panjang

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Friday, 11 September 2026
Harga Sawit Petani Ketapang-Kayong Utara Tetap Stabil di Tengah Kemarau Panjang
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com - Kemarau panjang yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat belum memberikan dampak signifikan terhadap harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.

Di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, harga sawit yang diterima petani dari pengepul masih berada pada kisaran relatif stabil. Namun, harga yang diterima petani berbeda-beda, tergantung pengepul serta potongan yang diberlakukan.

Partono (66), petani asal Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, mengatakan harga sawit yang diterimanya dari pengepul saat terakhir menjual berada di kisaran Rp3.100 per kilogram.

“Saya jual ke pengepul, itu harganya seminggu kemarin pas saya jual itu satu kilonya Rp3.100,” kata Partono saat diwawancarai Tribun Pontianak, Kamis (10/9/2026).

Menurut Partono, dalam satu kali penjualan hasil panennya bisa mencapai lebih dari satu ton. Namun, volume penjualan tidak selalu sama karena menyesuaikan waktu panen.

“Saya bisa sekali jual paling satu ton lebih saja, karena saya jualnya sedikit-sedikit. Karena panennya juga kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali,” ujarnya.

Sementara itu, kondisi harga sawit di Kabupaten Kayong Utara juga masih relatif bertahan.

Didi (48), warga Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, mengatakan harga terakhir yang diterimanya dari pengepul mencapai Rp2.850 per kilogram.

“Kalau di sini terakhir saya jual itu di Rp2.850 per kilonya. Itu saya jual ke pengepul di sini. Mereka yang langsung ambil buah di depan rumah,” kata Didi.

Namun, menurut Didi, harga yang diterima petani tidak seragam. Perbedaan harga salah satunya dipengaruhi oleh mekanisme potongan yang diterapkan masing-masing pengepul.

“Sebetulnya kalau untuk harga, beda pengepul beda harganya. Ada Rp2.700, ada yang Rp2.850,” ujarnya.

Didi menjelaskan, pengepul yang menawarkan harga lebih rendah biasanya memberlakukan potongan berdasarkan persentase dari hasil timbangan.

Potongan tersebut, kata dia, menjadi salah satu cara pengepul mengantisipasi penyusutan berat TBS selama proses pengangkutan dari lokasi petani menuju pabrik kelapa sawit.

“Ngapa setiap pengepul itu beda harganya, biasanya yang harganya lebih murah itu karena ada potongan persen dari pengepul. Ada potong 4 sampai 6 persen,” katanya.

“Potongan itu antisipasi dari pengepul untuk buah susut pas diantar ke pabrik, kayak gitu biasanya,” lanjutnya.

Dengan kondisi tersebut, harga TBS yang diterima petani di Ketapang dan Kayong Utara sejauh ini masih bergerak dalam kisaran relatif stabil meski kemarau panjang terus berlangsung.

Kondisi cuaca panas dan minim hujan memang berpotensi memengaruhi aktivitas serta produktivitas perkebunan. Namun, hingga saat ini dampaknya belum terlihat signifikan terhadap harga jual TBS di tingkat petani di dua wilayah tersebut. (Adi LC)

Artikel Selanjutnya
KONI Kapuas Hulu Kembali Tempati Gedung Sekretariat, Anwar Sanusi: Terima Kasih Pak Bupati
Friday, 11 September 2026
Artikel Sebelumnya
Bupati Ketapang Ajak Ulama Bersinergi Hadapi Kemarau Panjang dan Karhutla
Friday, 11 September 2026

Berita terkait