Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Friday, 11 September 2026 |
KALBARONLINE.com - Kemarau panjang yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat belum memberikan dampak signifikan terhadap harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.
Di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, harga sawit yang diterima petani dari pengepul masih berada pada kisaran relatif stabil. Namun, harga yang diterima petani berbeda-beda, tergantung pengepul serta potongan yang diberlakukan.
Partono (66), petani asal Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, mengatakan harga sawit yang diterimanya dari pengepul saat terakhir menjual berada di kisaran Rp3.100 per kilogram.
“Saya jual ke pengepul, itu harganya seminggu kemarin pas saya jual itu satu kilonya Rp3.100,” kata Partono saat diwawancarai Tribun Pontianak, Kamis (10/9/2026).
Menurut Partono, dalam satu kali penjualan hasil panennya bisa mencapai lebih dari satu ton. Namun, volume penjualan tidak selalu sama karena menyesuaikan waktu panen.
“Saya bisa sekali jual paling satu ton lebih saja, karena saya jualnya sedikit-sedikit. Karena panennya juga kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi harga sawit di Kabupaten Kayong Utara juga masih relatif bertahan.
Didi (48), warga Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, mengatakan harga terakhir yang diterimanya dari pengepul mencapai Rp2.850 per kilogram.
“Kalau di sini terakhir saya jual itu di Rp2.850 per kilonya. Itu saya jual ke pengepul di sini. Mereka yang langsung ambil buah di depan rumah,” kata Didi.
Namun, menurut Didi, harga yang diterima petani tidak seragam. Perbedaan harga salah satunya dipengaruhi oleh mekanisme potongan yang diterapkan masing-masing pengepul.
“Sebetulnya kalau untuk harga, beda pengepul beda harganya. Ada Rp2.700, ada yang Rp2.850,” ujarnya.
Didi menjelaskan, pengepul yang menawarkan harga lebih rendah biasanya memberlakukan potongan berdasarkan persentase dari hasil timbangan.
Potongan tersebut, kata dia, menjadi salah satu cara pengepul mengantisipasi penyusutan berat TBS selama proses pengangkutan dari lokasi petani menuju pabrik kelapa sawit.
“Ngapa setiap pengepul itu beda harganya, biasanya yang harganya lebih murah itu karena ada potongan persen dari pengepul. Ada potong 4 sampai 6 persen,” katanya.
“Potongan itu antisipasi dari pengepul untuk buah susut pas diantar ke pabrik, kayak gitu biasanya,” lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, harga TBS yang diterima petani di Ketapang dan Kayong Utara sejauh ini masih bergerak dalam kisaran relatif stabil meski kemarau panjang terus berlangsung.
Kondisi cuaca panas dan minim hujan memang berpotensi memengaruhi aktivitas serta produktivitas perkebunan. Namun, hingga saat ini dampaknya belum terlihat signifikan terhadap harga jual TBS di tingkat petani di dua wilayah tersebut. (Adi LC)
KALBARONLINE.com - Kemarau panjang yang masih melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat belum memberikan dampak signifikan terhadap harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.
Di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, harga sawit yang diterima petani dari pengepul masih berada pada kisaran relatif stabil. Namun, harga yang diterima petani berbeda-beda, tergantung pengepul serta potongan yang diberlakukan.
Partono (66), petani asal Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, mengatakan harga sawit yang diterimanya dari pengepul saat terakhir menjual berada di kisaran Rp3.100 per kilogram.
“Saya jual ke pengepul, itu harganya seminggu kemarin pas saya jual itu satu kilonya Rp3.100,” kata Partono saat diwawancarai Tribun Pontianak, Kamis (10/9/2026).
Menurut Partono, dalam satu kali penjualan hasil panennya bisa mencapai lebih dari satu ton. Namun, volume penjualan tidak selalu sama karena menyesuaikan waktu panen.
“Saya bisa sekali jual paling satu ton lebih saja, karena saya jualnya sedikit-sedikit. Karena panennya juga kadang seminggu sekali atau dua minggu sekali,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi harga sawit di Kabupaten Kayong Utara juga masih relatif bertahan.
Didi (48), warga Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, mengatakan harga terakhir yang diterimanya dari pengepul mencapai Rp2.850 per kilogram.
“Kalau di sini terakhir saya jual itu di Rp2.850 per kilonya. Itu saya jual ke pengepul di sini. Mereka yang langsung ambil buah di depan rumah,” kata Didi.
Namun, menurut Didi, harga yang diterima petani tidak seragam. Perbedaan harga salah satunya dipengaruhi oleh mekanisme potongan yang diterapkan masing-masing pengepul.
“Sebetulnya kalau untuk harga, beda pengepul beda harganya. Ada Rp2.700, ada yang Rp2.850,” ujarnya.
Didi menjelaskan, pengepul yang menawarkan harga lebih rendah biasanya memberlakukan potongan berdasarkan persentase dari hasil timbangan.
Potongan tersebut, kata dia, menjadi salah satu cara pengepul mengantisipasi penyusutan berat TBS selama proses pengangkutan dari lokasi petani menuju pabrik kelapa sawit.
“Ngapa setiap pengepul itu beda harganya, biasanya yang harganya lebih murah itu karena ada potongan persen dari pengepul. Ada potong 4 sampai 6 persen,” katanya.
“Potongan itu antisipasi dari pengepul untuk buah susut pas diantar ke pabrik, kayak gitu biasanya,” lanjutnya.
Dengan kondisi tersebut, harga TBS yang diterima petani di Ketapang dan Kayong Utara sejauh ini masih bergerak dalam kisaran relatif stabil meski kemarau panjang terus berlangsung.
Kondisi cuaca panas dan minim hujan memang berpotensi memengaruhi aktivitas serta produktivitas perkebunan. Namun, hingga saat ini dampaknya belum terlihat signifikan terhadap harga jual TBS di tingkat petani di dua wilayah tersebut. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini