Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 16 September 2026 |
KALBARONLINE.com – Emak-emak atau para orang tua murid mulai memprotes kebijakan pembelajaran daring yang diterapkan di Kota Pontianak akibat kabut asap. Mereka meminta Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono kembali menerapkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Edi mengungkapkan, permintaan tersebut mulai disampaikan sejumlah orang tua setelah pembelajaran daring berlangsung selama beberapa pekan.
Menurut Edi, kondisi tersebut berbeda dengan awal kabut asap. Saat itu, orang tua justru meminta sekolah diliburkan karena kualitas udara memburuk. Pemerintah kemudian memenuhi permintaan tersebut setelah hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara berada pada kategori berbahaya.
“Awal-awal kabut asap, orang tua protes dan meminta anaknya diliburkan. Kita penuhi karena memang kondisi udara yang tercatat di alat pemantau kita bukan lagi sangat tidak sehat, tetapi sudah berbahaya,” kata Edi, Rabu (16/9/2026).
Namun, setelah beberapa minggu pembelajaran daring berlangsung, keluhan orang tua mulai berubah. Mereka kini meminta anak-anak kembali masuk sekolah dan mengikuti pembelajaran secara tatap muka.
“Sekarang sudah beberapa minggu. ‘Pak, kapan masuk, Pak?’ Ini ada protes dari ibu-ibu atau mama-mama supaya anak-anak masuk lagi,” ujarnya.
Menurut Edi, para orang tua menyampaikan sejumlah alasan. Di antaranya anak-anak bermain tanpa pengawasan selama berada di rumah serta kendala jaringan internet ketika mengikuti pembelajaran daring.
Menanggapi permintaan tersebut, Edi mengatakan Pemkot Pontianak masih akan melihat perkembangan cuaca dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan. Hujan yang turun di sejumlah wilayah diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi udara.
Jika sekolah tatap muka kembali diberlakukan, Edi meminta kegiatan belajar tetap memperhatikan kondisi kesehatan siswa dan guru. Penggunaan masker serta pembatasan kegiatan olahraga menjadi beberapa langkah yang dapat diterapkan.
“Kalaupun nanti Senin masuk, harus tetap waspada. Pakai masker, misalnya. Kemudian olahraga dibatasi atau ditunda dulu,” katanya.
Jam masuk sekolah juga dapat disesuaikan apabila kondisi udara masih pekat pada pagi hari. Edi menyebut waktu masuk dapat diundur menjadi pukul 08.00 atau 09.00.
“Kalau seandainya kondisi udara masih pekat pada pagi hari, mungkin jam masuk diundur menjadi pukul 08.00 atau 09.00,” ujarnya.
Edi menegaskan pemerintah harus mencari cara agar proses pembelajaran tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan siswa maupun guru.
“Jadi inilah, kita harus kreatif. Bagaimana proses belajar jangan sampai dikorbankan, tetapi kesehatan anak-anak juga tetap menjadi perhatian,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Emak-emak atau para orang tua murid mulai memprotes kebijakan pembelajaran daring yang diterapkan di Kota Pontianak akibat kabut asap. Mereka meminta Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono kembali menerapkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
Edi mengungkapkan, permintaan tersebut mulai disampaikan sejumlah orang tua setelah pembelajaran daring berlangsung selama beberapa pekan.
Menurut Edi, kondisi tersebut berbeda dengan awal kabut asap. Saat itu, orang tua justru meminta sekolah diliburkan karena kualitas udara memburuk. Pemerintah kemudian memenuhi permintaan tersebut setelah hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara berada pada kategori berbahaya.
“Awal-awal kabut asap, orang tua protes dan meminta anaknya diliburkan. Kita penuhi karena memang kondisi udara yang tercatat di alat pemantau kita bukan lagi sangat tidak sehat, tetapi sudah berbahaya,” kata Edi, Rabu (16/9/2026).
Namun, setelah beberapa minggu pembelajaran daring berlangsung, keluhan orang tua mulai berubah. Mereka kini meminta anak-anak kembali masuk sekolah dan mengikuti pembelajaran secara tatap muka.
“Sekarang sudah beberapa minggu. ‘Pak, kapan masuk, Pak?’ Ini ada protes dari ibu-ibu atau mama-mama supaya anak-anak masuk lagi,” ujarnya.
Menurut Edi, para orang tua menyampaikan sejumlah alasan. Di antaranya anak-anak bermain tanpa pengawasan selama berada di rumah serta kendala jaringan internet ketika mengikuti pembelajaran daring.
Menanggapi permintaan tersebut, Edi mengatakan Pemkot Pontianak masih akan melihat perkembangan cuaca dan kualitas udara dalam beberapa hari ke depan. Hujan yang turun di sejumlah wilayah diharapkan dapat membantu memperbaiki kondisi udara.
Jika sekolah tatap muka kembali diberlakukan, Edi meminta kegiatan belajar tetap memperhatikan kondisi kesehatan siswa dan guru. Penggunaan masker serta pembatasan kegiatan olahraga menjadi beberapa langkah yang dapat diterapkan.
“Kalaupun nanti Senin masuk, harus tetap waspada. Pakai masker, misalnya. Kemudian olahraga dibatasi atau ditunda dulu,” katanya.
Jam masuk sekolah juga dapat disesuaikan apabila kondisi udara masih pekat pada pagi hari. Edi menyebut waktu masuk dapat diundur menjadi pukul 08.00 atau 09.00.
“Kalau seandainya kondisi udara masih pekat pada pagi hari, mungkin jam masuk diundur menjadi pukul 08.00 atau 09.00,” ujarnya.
Edi menegaskan pemerintah harus mencari cara agar proses pembelajaran tetap berjalan tanpa mengabaikan kesehatan siswa maupun guru.
“Jadi inilah, kita harus kreatif. Bagaimana proses belajar jangan sampai dikorbankan, tetapi kesehatan anak-anak juga tetap menjadi perhatian,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini