Pontianak    

PJJ Hampir 6 Pekan Akibat Kabut Asap, Kepsek SMPN 1 Pontianak Ungkap Siswa Mulai Kesulitan Fokus

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Monday, 21 September 2026
PJJ Hampir 6 Pekan Akibat Kabut Asap, Kepsek SMPN 1 Pontianak Ungkap Siswa Mulai Kesulitan Fokus
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) di SMP Negeri 1 Pontianak kembali diperpanjang seiring kualitas udara yang belum membaik. Hingga kini, siswa telah menjalani pembelajaran dari rumah selama hampir enam pekan.

Kepala SMP Negeri 1 Pontianak, Kiswanti, mengatakan pihak sekolah sebenarnya telah bersiap kembali menggelar pembelajaran tatap muka setelah indeks kualitas udara sempat berada di sekitar angka 240 pada Jumat (18/9/2026).

“Mulai hari Jumat itu kami sebenarnya sudah bersiap dan mempersiapkan pembelajaran tatap muka. Tapi ternyata pada hari Sabtu dan Minggu kondisinya malah semakin menurun,” kata Kiswanti.

Karena kualitas udara kembali memburuk, sekolah memutuskan melanjutkan PJJ dan kembali menginformasikan kebijakan tersebut kepada orang tua siswa.

Menurut Kiswanti, orang tua sejauh ini menerima kebijakan tersebut dan tidak menyampaikan keluhan secara langsung terkait perpanjangan PJJ.

“Kalau dari orang tua, responsnya mengikuti kebijakan dari sekolah. Sampai saat ini tidak ada komplain secara langsung. Artinya, mereka menerima kondisi ini,” ujarnya.

Meski demikian, pelaksanaan PJJ selama hampir enam pekan mulai menimbulkan sejumlah kendala. Salah satunya terkait konsentrasi siswa dan keterbatasan guru dalam memantau proses belajar secara langsung.

“Kalau kendala tentunya ada. Misalnya konsentrasi anak. Kemudian guru tidak bisa memantau langsung kondisi anak karena hanya di ruang virtual,” katanya.

Kiswanti mengatakan guru juga tidak dapat memastikan secara maksimal apakah siswa benar-benar memahami materi, mengerjakan tugas, maupun mengikuti pembelajaran dengan baik.

Bahkan, sejak memasuki pekan kelima, sejumlah guru mulai menemukan siswa yang terlambat mengumpulkan tugas hingga belum menyelesaikannya.

“Beberapa guru mata pelajaran memang sudah menyampaikan bahwa ada beberapa anak yang mulai cenderung terlambat mengumpulkan tugas, bahkan ada yang belum mengumpulkan. Itu sudah mulai muncul sejak minggu kelima,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pihak sekolah meminta guru memberikan keringanan dalam pemberian tugas karena pembelajaran berlangsung dalam situasi yang berbeda dari kondisi normal.

Sekolah juga melakukan evaluasi dan mengingatkan siswa maupun orang tua melalui grup kelas terkait tugas yang belum diselesaikan.

“Kita ini dalam kondisi khusus. Artinya, pembelajaran dan tuntutan kita tidak bisa seideal dalam kondisi normal,” tutur Kiswanti.

Meski memberikan kelonggaran, sekolah tetap memastikan tugas yang diberikan kepada siswa terukur agar pembelajaran tetap bermakna dan risiko learning loss dapat diminimalkan.

Selain persoalan tugas dan konsentrasi, sekolah juga berupaya mengatasi kendala jaringan internet dan penggunaan paket data. Salah satunya dengan mengatur pembelajaran virtual secara bergantian.

Jika terdapat empat jam pelajaran, dua jam dilakukan melalui ruang virtual, sementara dua jam lainnya tidak menggunakan pertemuan virtual secara penuh.

“Pertama untuk membantu atau meminimalkan penggunaan paket data,” jelasnya.

Bagi siswa yang terkendala secara ekonomi dan tidak memiliki Wi-Fi maupun paket data, sekolah juga menyediakan alternatif berupa tugas yang telah dicetak.

Orang tua dapat mengambil tugas tersebut di sekolah untuk kemudian dikerjakan siswa di rumah.

“Untuk anak yang memang secara ekonomi rentan, yang betul-betul tidak punya Wi-Fi maupun paket data, kami juga sudah menawarkan solusi. Orang tua bisa mengambil tugas yang sudah dicetak oleh guru ke sekolah,” katanya.

Meski hingga kini belum ada orang tua yang mengambil tugas melalui mekanisme tersebut, Kiswanti menyebut sekolah telah menyampaikan solusi itu kepada guru dan orang tua.

Di sisi lain, sejumlah siswa juga berinisiatif mencari solusi sendiri, seperti menumpang belajar di rumah teman agar tetap dapat mengikuti pembelajaran.

Kiswanti berharap seluruh pihak dapat menyesuaikan diri selama kondisi khusus akibat kualitas udara tersebut berlangsung. (Lid)

Artikel Selanjutnya
Kabut Asap Tebal dan Medan Berbukit Hambat Water Bombing Karhutla di Bukit Peramas
Monday, 21 September 2026
Artikel Sebelumnya
Usai Video Bakar Lahan Miliknya Viral, Anggota DPRD Mempawah Minta Maaf
Monday, 21 September 2026

Berita terkait