Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Monday, 19 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Bayyaya’ Art Connection menggelar pemutaran monolog dan diskusi publik bertajuk Merah Jam Dua di Cafe Triple SSS, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui karya seni.
Monolog tersebut mengisahkan seorang ibu tunggal yang kehilangan anaknya akibat karhutla. Sang anak meninggal dunia saat bekerja mengantarkan barang pesanan di tengah kebakaran dan kepungan kabut asap.
Karya yang ditulis sekaligus disutradarai Yuda Adhari itu terinspirasi dari kisah nyata korban meninggal akibat karhutla di Kabupaten Ketapang.
Yuda mengatakan, Merah Jam Dua lahir dari kegelisahannya selama beberapa bulan terakhir ketika masyarakat harus menjalani aktivitas di tengah kepungan asap.
“Karya ini memang lahir dari kegelisahan saya selama beberapa bulan terakhir, ketika kita terperangkap oleh asap. Hal itu mendorong saya untuk berbicara melalui karya,” ujar Yuda.
Dari kegelisahan tersebut, ia mengembangkan program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang menghasilkan empat karya. Monolog Merah Jam Dua menjadi salah satunya, sedangkan karya lain direncanakan hadir dalam beberapa bulan mendatang.
Yuda berharap karya-karya tersebut dapat membuka ruang pembicaraan mengenai karhutla dari berbagai sudut pandang sekaligus mendorong upaya pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Harapannya, persoalan ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak ingin kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun,” katanya.
Menurut Yuda, diskusi publik setelah pemutaran monolog juga memberinya perspektif baru. Pembahasan tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga politik, kebudayaan, dan agama.
Ia berharap pertemuan yang melibatkan pegiat seni, anggota legislatif, serta organisasi nonpemerintah tersebut dapat memperluas ruang diskusi mengenai penanganan karhutla.
“Kami berharap obrolan dan karya ini bisa sampai ke ruang-ruang yang selama ini belum bisa kami jangkau. Tujuannya sejak awal adalah kita tidak ingin persoalan kebakaran hutan ini menjadi agenda tahunan yang terus berulang,” ungkapnya.
Anggota DPRD Kota Pontianak, Samsudin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi para pegiat seni yang mengangkat persoalan karhutla melalui monolog dan diskusi publik.
Ia menilai dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga memengaruhi kesehatan serta aktivitas sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, kabut asap dapat menghambat pekerjaan dan aktivitas sosial, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit seperti asma.
“Ini yang menjadi tolok ukur kita bahwa persoalan karhutla harus segera ditangani. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran? Dampaknya sangat negatif terhadap kesehatan dan aktivitas sosial masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, turut mengapresiasi penggunaan seni teater sebagai medium untuk menyampaikan persoalan karhutla kepada masyarakat.
Menurutnya, karya seni berpotensi menjangkau kelompok masyarakat yang tidak menyaksikan langsung kondisi kebakaran di lapangan, termasuk anak muda, perempuan, dan masyarakat perkotaan.
“Seni teater, secara khusus, mungkin lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, baik kalangan anak muda, perempuan, maupun masyarakat perkotaan yang tidak melihat langsung kondisi kebakaran di lapangan,” katanya.
Ia berharap pendekatan melalui seni dapat membantu menyampaikan pesan mengenai dampak karhutla secara lebih luas dan mudah dipahami berbagai kalangan.
Meski demikian, Syukri menekankan pentingnya riset, data, dan fakta dalam proses penciptaan karya seni agar pesan yang disampaikan memiliki dasar yang kuat.
“Setiap karya seni seharusnya didasarkan pada riset, data, dan fakta. Dengan begitu, karya tersebut akan lebih kuat dan mampu menyampaikan persoalan secara lebih jelas kepada masyarakat,” tutupnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Bayyaya’ Art Connection menggelar pemutaran monolog dan diskusi publik bertajuk Merah Jam Dua di Cafe Triple SSS, Minggu (18/10/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui karya seni.
Monolog tersebut mengisahkan seorang ibu tunggal yang kehilangan anaknya akibat karhutla. Sang anak meninggal dunia saat bekerja mengantarkan barang pesanan di tengah kebakaran dan kepungan kabut asap.
Karya yang ditulis sekaligus disutradarai Yuda Adhari itu terinspirasi dari kisah nyata korban meninggal akibat karhutla di Kabupaten Ketapang.
Yuda mengatakan, Merah Jam Dua lahir dari kegelisahannya selama beberapa bulan terakhir ketika masyarakat harus menjalani aktivitas di tengah kepungan asap.
“Karya ini memang lahir dari kegelisahan saya selama beberapa bulan terakhir, ketika kita terperangkap oleh asap. Hal itu mendorong saya untuk berbicara melalui karya,” ujar Yuda.
Dari kegelisahan tersebut, ia mengembangkan program Bebakaran: Dari Sudut Pandang yang menghasilkan empat karya. Monolog Merah Jam Dua menjadi salah satunya, sedangkan karya lain direncanakan hadir dalam beberapa bulan mendatang.
Yuda berharap karya-karya tersebut dapat membuka ruang pembicaraan mengenai karhutla dari berbagai sudut pandang sekaligus mendorong upaya pencegahan agar bencana serupa tidak terus berulang setiap tahun.
“Harapannya, persoalan ini tidak terulang lagi pada tahun-tahun berikutnya. Kita tidak ingin kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun,” katanya.
Menurut Yuda, diskusi publik setelah pemutaran monolog juga memberinya perspektif baru. Pembahasan tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga politik, kebudayaan, dan agama.
Ia berharap pertemuan yang melibatkan pegiat seni, anggota legislatif, serta organisasi nonpemerintah tersebut dapat memperluas ruang diskusi mengenai penanganan karhutla.
“Kami berharap obrolan dan karya ini bisa sampai ke ruang-ruang yang selama ini belum bisa kami jangkau. Tujuannya sejak awal adalah kita tidak ingin persoalan kebakaran hutan ini menjadi agenda tahunan yang terus berulang,” ungkapnya.
Anggota DPRD Kota Pontianak, Samsudin, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengapresiasi para pegiat seni yang mengangkat persoalan karhutla melalui monolog dan diskusi publik.
Ia menilai dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan dan lahan, tetapi juga memengaruhi kesehatan serta aktivitas sehari-hari masyarakat.
Menurutnya, kabut asap dapat menghambat pekerjaan dan aktivitas sosial, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit seperti asma.
“Ini yang menjadi tolok ukur kita bahwa persoalan karhutla harus segera ditangani. Bagaimana caranya agar masyarakat tidak lagi melakukan pembakaran? Dampaknya sangat negatif terhadap kesehatan dan aktivitas sosial masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Link-AR Borneo, Ahmad Syukri, turut mengapresiasi penggunaan seni teater sebagai medium untuk menyampaikan persoalan karhutla kepada masyarakat.
Menurutnya, karya seni berpotensi menjangkau kelompok masyarakat yang tidak menyaksikan langsung kondisi kebakaran di lapangan, termasuk anak muda, perempuan, dan masyarakat perkotaan.
“Seni teater, secara khusus, mungkin lebih mudah diterima oleh masyarakat luas, baik kalangan anak muda, perempuan, maupun masyarakat perkotaan yang tidak melihat langsung kondisi kebakaran di lapangan,” katanya.
Ia berharap pendekatan melalui seni dapat membantu menyampaikan pesan mengenai dampak karhutla secara lebih luas dan mudah dipahami berbagai kalangan.
Meski demikian, Syukri menekankan pentingnya riset, data, dan fakta dalam proses penciptaan karya seni agar pesan yang disampaikan memiliki dasar yang kuat.
“Setiap karya seni seharusnya didasarkan pada riset, data, dan fakta. Dengan begitu, karya tersebut akan lebih kuat dan mampu menyampaikan persoalan secara lebih jelas kepada masyarakat,” tutupnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini