Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 29 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pengembangan angkutan umum perkotaan melalui program Teman Bus dengan skema Buy The Service (BTS) dari Kementerian Perhubungan. Layanan ini ditargetkan mulai beroperasi pada Mei 2027 dengan dua koridor sebagai tahap awal untuk menyediakan transportasi yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau masyarakat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pengembangan angkutan umum menjadi salah satu upaya menghadapi pertumbuhan kendaraan dan kemacetan di Kota Pontianak.
Menurutnya, tantangan utama dalam mengembangkan transportasi publik adalah membangun kepercayaan masyarakat agar bersedia beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
“Kita memahami masyarakat sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi karena lebih praktis. Karena itu, angkutan umum yang kita hadirkan harus memberikan pelayanan yang baik, sehingga masyarakat punya alternatif untuk menunjang mobilitas sehari-hari,” ujarnya usai koordinasi persiapan Program Teman Bus dengan skema BTS di Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (29/10/2026).
Edi menilai, pemerintah perlu menyiapkan halte, titik pemberhentian yang mudah dijangkau, rambu, serta fasilitas pendukung yang terhubung dengan aktivitas masyarakat. Keteraturan jadwal, keselamatan, dan kenyamanan penumpang juga harus dijaga agar masyarakat tertarik menggunakan angkutan umum secara berkelanjutan.
“Transportasi umum harus terintegrasi dengan aktivitas masyarakat. Titik pemberhentian harus mudah dijangkau dan fasilitasnya mendukung kenyamanan penumpang. Ini yang perlu kita persiapkan bersama agar layanan bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.
Selain infrastruktur, Edi menekankan pentingnya keberlanjutan pembiayaan dan pengelolaan layanan. Program BTS direncanakan mendapat dukungan Kementerian Perhubungan selama tiga tahun pertama sebelum pengelolaannya diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak.
Karena itu, kesiapan sumber daya manusia, pembiayaan operasional, dan kemampuan menjaga standar pelayanan perlu diperhitungkan sejak awal.
“Program ini harus kita persiapkan secara matang agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Kita perlu memastikan layanan berjalan baik, kebutuhan operasional diperhitungkan, dan pengelolaannya dapat berkelanjutan,” kata Edi.
Ia juga mengakui kondisi jalan dan kepadatan lalu lintas menjadi tantangan dalam penerapan angkutan umum di Pontianak. Sosialisasi kepada masyarakat serta evaluasi setelah layanan beroperasi diperlukan untuk mengukur efektivitas program tersebut.
“Kondisi jalan kita tidak terlalu lebar dan kepadatannya tinggi. Ini tentu perlu menjadi perhatian karena kehadiran bus umum juga akan berdampak terhadap kelancaran lalu lintas. Kita harapkan masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum sehingga kepadatan dapat berkurang. Nanti kita evaluasi dan terus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Barat, I Ketut Suhartana, menjelaskan bahwa dari tiga trayek yang telah ditetapkan, pemerintah merencanakan uji coba pada dua koridor terlebih dahulu.
Koridor pertama melayani rute Rusunawa Harapan Jaya menuju RSUD dr. Soedarso sepanjang sekitar 21,04 kilometer. Rute ini membutuhkan delapan armada, terdiri atas tujuh bus operasional dan satu bus cadangan.
Koridor kedua menggunakan pola melingkar atau looping, dengan rute TPI Nipah Kuning menuju Sungai Raya Dalam sepanjang sekitar 34,52 kilometer. Koridor ini membutuhkan 11 armada, terdiri atas 10 bus operasional dan satu bus cadangan.
“Dari tiga trayek yang telah diputuskan, pada tahap awal ini kami akan melaksanakan uji coba pada dua trayek terlebih dahulu,” ujar Suhartana.
Ia menerangkan, BTS merupakan skema pembelian layanan oleh pemerintah kepada operator dengan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). Standar tersebut meliputi keselamatan, keamanan, kenyamanan, keteraturan, keterjangkauan, dan kesetaraan.
Operasional kedua koridor ditargetkan berjalan penuh saat peluncuran pada Mei 2027. Pada masa pengenalan, pemerintah juga merencanakan layanan tanpa tarif untuk membantu masyarakat mengenal kembali angkutan umum perkotaan.
“Pada saat peluncuran nanti, operasional sudah berjalan penuh sekaligus menjadi masa percobaan dan sosialisasi kepada masyarakat. Kemungkinan masyarakat tidak dipungut bayaran selama masa pengenalan ini,” jelasnya.
Untuk mendukung pengawasan, armada direncanakan dilengkapi CCTV, GPS, sistem pemantauan perilaku pengemudi, serta perangkat pembayaran elektronik Tap on Bus. PT Surveyor Indonesia akan membantu pengelolaan dan verifikasi kinerja operator berdasarkan standar pelayanan yang ditetapkan.
Suhartana menambahkan, program BTS dirancang berjalan selama tiga tahun pertama di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan sebelum diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak untuk dikelola secara mandiri.
“Karena itu, kesiapan pemerintah daerah, termasuk dari sisi infrastruktur dan pengelolaan operasional, menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan layanan,” tutupnya. (*)
KALBARONLINE.com – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan pengembangan angkutan umum perkotaan melalui program Teman Bus dengan skema Buy The Service (BTS) dari Kementerian Perhubungan. Layanan ini ditargetkan mulai beroperasi pada Mei 2027 dengan dua koridor sebagai tahap awal untuk menyediakan transportasi yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau masyarakat.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pengembangan angkutan umum menjadi salah satu upaya menghadapi pertumbuhan kendaraan dan kemacetan di Kota Pontianak.
Menurutnya, tantangan utama dalam mengembangkan transportasi publik adalah membangun kepercayaan masyarakat agar bersedia beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
“Kita memahami masyarakat sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi karena lebih praktis. Karena itu, angkutan umum yang kita hadirkan harus memberikan pelayanan yang baik, sehingga masyarakat punya alternatif untuk menunjang mobilitas sehari-hari,” ujarnya usai koordinasi persiapan Program Teman Bus dengan skema BTS di Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (29/10/2026).
Edi menilai, pemerintah perlu menyiapkan halte, titik pemberhentian yang mudah dijangkau, rambu, serta fasilitas pendukung yang terhubung dengan aktivitas masyarakat. Keteraturan jadwal, keselamatan, dan kenyamanan penumpang juga harus dijaga agar masyarakat tertarik menggunakan angkutan umum secara berkelanjutan.
“Transportasi umum harus terintegrasi dengan aktivitas masyarakat. Titik pemberhentian harus mudah dijangkau dan fasilitasnya mendukung kenyamanan penumpang. Ini yang perlu kita persiapkan bersama agar layanan bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.
Selain infrastruktur, Edi menekankan pentingnya keberlanjutan pembiayaan dan pengelolaan layanan. Program BTS direncanakan mendapat dukungan Kementerian Perhubungan selama tiga tahun pertama sebelum pengelolaannya diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak.
Karena itu, kesiapan sumber daya manusia, pembiayaan operasional, dan kemampuan menjaga standar pelayanan perlu diperhitungkan sejak awal.
“Program ini harus kita persiapkan secara matang agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka panjang. Kita perlu memastikan layanan berjalan baik, kebutuhan operasional diperhitungkan, dan pengelolaannya dapat berkelanjutan,” kata Edi.
Ia juga mengakui kondisi jalan dan kepadatan lalu lintas menjadi tantangan dalam penerapan angkutan umum di Pontianak. Sosialisasi kepada masyarakat serta evaluasi setelah layanan beroperasi diperlukan untuk mengukur efektivitas program tersebut.
“Kondisi jalan kita tidak terlalu lebar dan kepadatannya tinggi. Ini tentu perlu menjadi perhatian karena kehadiran bus umum juga akan berdampak terhadap kelancaran lalu lintas. Kita harapkan masyarakat bisa beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum sehingga kepadatan dapat berkurang. Nanti kita evaluasi dan terus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Barat, I Ketut Suhartana, menjelaskan bahwa dari tiga trayek yang telah ditetapkan, pemerintah merencanakan uji coba pada dua koridor terlebih dahulu.
Koridor pertama melayani rute Rusunawa Harapan Jaya menuju RSUD dr. Soedarso sepanjang sekitar 21,04 kilometer. Rute ini membutuhkan delapan armada, terdiri atas tujuh bus operasional dan satu bus cadangan.
Koridor kedua menggunakan pola melingkar atau looping, dengan rute TPI Nipah Kuning menuju Sungai Raya Dalam sepanjang sekitar 34,52 kilometer. Koridor ini membutuhkan 11 armada, terdiri atas 10 bus operasional dan satu bus cadangan.
“Dari tiga trayek yang telah diputuskan, pada tahap awal ini kami akan melaksanakan uji coba pada dua trayek terlebih dahulu,” ujar Suhartana.
Ia menerangkan, BTS merupakan skema pembelian layanan oleh pemerintah kepada operator dengan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM). Standar tersebut meliputi keselamatan, keamanan, kenyamanan, keteraturan, keterjangkauan, dan kesetaraan.
Operasional kedua koridor ditargetkan berjalan penuh saat peluncuran pada Mei 2027. Pada masa pengenalan, pemerintah juga merencanakan layanan tanpa tarif untuk membantu masyarakat mengenal kembali angkutan umum perkotaan.
“Pada saat peluncuran nanti, operasional sudah berjalan penuh sekaligus menjadi masa percobaan dan sosialisasi kepada masyarakat. Kemungkinan masyarakat tidak dipungut bayaran selama masa pengenalan ini,” jelasnya.
Untuk mendukung pengawasan, armada direncanakan dilengkapi CCTV, GPS, sistem pemantauan perilaku pengemudi, serta perangkat pembayaran elektronik Tap on Bus. PT Surveyor Indonesia akan membantu pengelolaan dan verifikasi kinerja operator berdasarkan standar pelayanan yang ditetapkan.
Suhartana menambahkan, program BTS dirancang berjalan selama tiga tahun pertama di bawah pengelolaan Kementerian Perhubungan sebelum diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Pontianak untuk dikelola secara mandiri.
“Karena itu, kesiapan pemerintah daerah, termasuk dari sisi infrastruktur dan pengelolaan operasional, menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan layanan,” tutupnya. (*)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini