Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 29 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat tercatat nihil per 28 Oktober 2026. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan prakiraan BMKG pada 27 Oktober, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalbar pada periode 27 Oktober hingga 2 November 2026. Namun, hujan diperkirakan tidak turun secara merata sehingga beberapa wilayah masih berpotensi mengalami kondisi yang mendukung terjadinya karhutla.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengapresiasi penanganan karhutla di Kalbar yang dinilai berlangsung cepat. Apresiasi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalbar pada Jumat (23/10/2026).
Rapat yang berlangsung di Kantor Gubernur Kalbar itu diikuti secara daring oleh Gubernur Kalbar Ria Norsan, jajaran pemerintah daerah, serta Kapolda Kalbar Irjen Pol Albert Teddy Benhard Sianipar beserta jajaran.
Ria Norsan mengatakan, kondisi karhutla yang membaik perlu dipertahankan melalui kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat.
“Perkembangan kondisi karhutla di Kalimantan Barat saat ini sangat baik. Kita berharap kondisi ini dapat terus dipertahankan melalui kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat. Jangan sampai upaya yang telah kita lakukan bersama menjadi sia-sia karena kelalaian dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurut Norsan, sinergi pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat berperan penting dalam pemadaman, pendinginan, dan pemantauan wilayah terdampak kebakaran.
Pemerintah juga terus memperkuat sosialisasi mengenai pengelolaan lahan yang bertanggung jawab. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kepada petugas jika menemukan indikasi kebakaran.
Meski hotspot berkepercayaan tinggi saat ini nihil, pemantauan dan deteksi dini tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi dan meluas.
Pemprov Kalbar mengajak seluruh pihak menjaga kondisi tersebut melalui peningkatan kewaspadaan, edukasi masyarakat, serta respons cepat terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. (Lid)
KALBARONLINE.com – Titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Barat tercatat nihil per 28 Oktober 2026. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan prakiraan BMKG pada 27 Oktober, hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Kalbar pada periode 27 Oktober hingga 2 November 2026. Namun, hujan diperkirakan tidak turun secara merata sehingga beberapa wilayah masih berpotensi mengalami kondisi yang mendukung terjadinya karhutla.
Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengapresiasi penanganan karhutla di Kalbar yang dinilai berlangsung cepat. Apresiasi tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Kalbar pada Jumat (23/10/2026).
Rapat yang berlangsung di Kantor Gubernur Kalbar itu diikuti secara daring oleh Gubernur Kalbar Ria Norsan, jajaran pemerintah daerah, serta Kapolda Kalbar Irjen Pol Albert Teddy Benhard Sianipar beserta jajaran.
Ria Norsan mengatakan, kondisi karhutla yang membaik perlu dipertahankan melalui kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat.
“Perkembangan kondisi karhutla di Kalimantan Barat saat ini sangat baik. Kita berharap kondisi ini dapat terus dipertahankan melalui kerja sama pemerintah, petugas, dan masyarakat. Jangan sampai upaya yang telah kita lakukan bersama menjadi sia-sia karena kelalaian dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Menurut Norsan, sinergi pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, serta masyarakat berperan penting dalam pemadaman, pendinginan, dan pemantauan wilayah terdampak kebakaran.
Pemerintah juga terus memperkuat sosialisasi mengenai pengelolaan lahan yang bertanggung jawab. Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan kepada petugas jika menemukan indikasi kebakaran.
Meski hotspot berkepercayaan tinggi saat ini nihil, pemantauan dan deteksi dini tetap diperlukan untuk mencegah kebakaran kembali terjadi dan meluas.
Pemprov Kalbar mengajak seluruh pihak menjaga kondisi tersebut melalui peningkatan kewaspadaan, edukasi masyarakat, serta respons cepat terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini