Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Kamis, 29 Januari 2026 |
KALBARONLINE.com – Presidium Dewan Kehutanan Nasional Kalimantan Barat, Glorio Sanen menegaskan, program mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan hutan di Kalimantan Barat yang dilakukan lewat Kick Off Program RBP REDD+ GCF, tidak boleh berhenti pada agenda seremonial semata.
Menurutnya, tingginya laju deforestasi menjadi alarm serius meski selama ini kerap kondisi hutan diklaim masih aman.
“Ini kan agenda mitigasi juga, karena deforestasinya cukup tinggi. Jangan sampai kita mengulang cerita seperti di Sumatera, diklaim aman, tahu-tahu bencana besar terjadi,” ujar Glorio dalam kegiatan kehutanan di Pontianak, Rabu (29/01/2026).
Glorio mengapresiasi Kalimantan Barat yang menjadi salah satu provinsi di Kalimantan penerima dukungan pendanaan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).
Namun ia mengingatkan, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada substansi kebijakan dan keberpihakan pemerintah daerah.
Ia menekankan, ada tiga isu utama yang wajib dipastikan berjalan seiring. Pertama, pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Kedua, pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan. Ketiga, dampak nyata terhadap penurunan deforestasi dan pengurangan emisi.
“Yang paling penting, program ini harus memastikan pengakuan dan perlindungan masyarakat adat dan komunitas lokal. Jangan sampai justru menjadi alat kriminalisasi terhadap mereka,” tegasnya.
Menurut dia, pemenuhan hak atas wilayah adat harus menjadi prasyarat sebelum program lingkungan dijalankan. Jika tidak, justru berpotensi memicu konflik baru di tengah masyarakat.
“Pastikan hak-haknya dulu. Jangan sampai program ini memunculkan sengketa baru antara masyarakat adat dengan pemangku kepentingan lain,” katanya.
Glorio mengutip prinsip gerakan masyarakat adat: tanpa hak, tidak akan ada pengurangan emisi, deforestasi, maupun degradasi hutan.
Oleh karena itu, program lingkungan harus berjalan seiring dengan penguatan hak tenurial.
Selain aspek ekologis, Glorio menilai program kehutanan juga harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Salah satu caranya melalui pengembangan dan pengolahan hasil hutan non-kayu.
“Hutan tetap lestari, tapi ekonomi rakyat juga harus tumbuh. Skema-skema seperti ini yang harus dibangun,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan konkret dari pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota. Tanpa sinergi kebijakan, dana besar yang digelontorkan berisiko menjadi sia-sia.
“Jangan dipandang sebagai proyek semata. Ini harus memicu pengakuan wilayah adat sekaligus mendorong ekonomi masyarakat,” kata Glorio.
Disamping itu, dia turut mengkritisi paradoks kebijakan daerah yang di satu sisi berbicara krisis ekologis, namun di sisi lain masih memberi ruang bagi izin industri ekstraktif dan perkebunan.
“Ini jadi paradoks. Kita bicara krisis ekologis, tapi kebijakan kepala daerah tidak berpihak. Pengakuan terhadap masyarakat adat juga masih sangat lemah,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program lingkungan sangat ditentukan oleh political will kepala daerah, mulai dari gubernur, bupati hingga wali kota.
“Jangan hanya mendukung secara seremoni, tapi kebijakan tidak konkret. Itu justru bertentangan dengan semangat yang diluncurkan hari ini,” pungkasnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Presidium Dewan Kehutanan Nasional Kalimantan Barat, Glorio Sanen menegaskan, program mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan hutan di Kalimantan Barat yang dilakukan lewat Kick Off Program RBP REDD+ GCF, tidak boleh berhenti pada agenda seremonial semata.
Menurutnya, tingginya laju deforestasi menjadi alarm serius meski selama ini kerap kondisi hutan diklaim masih aman.
“Ini kan agenda mitigasi juga, karena deforestasinya cukup tinggi. Jangan sampai kita mengulang cerita seperti di Sumatera, diklaim aman, tahu-tahu bencana besar terjadi,” ujar Glorio dalam kegiatan kehutanan di Pontianak, Rabu (29/01/2026).
Glorio mengapresiasi Kalimantan Barat yang menjadi salah satu provinsi di Kalimantan penerima dukungan pendanaan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).
Namun ia mengingatkan, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada substansi kebijakan dan keberpihakan pemerintah daerah.
Ia menekankan, ada tiga isu utama yang wajib dipastikan berjalan seiring. Pertama, pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Kedua, pengelolaan hutan yang adil dan berkelanjutan. Ketiga, dampak nyata terhadap penurunan deforestasi dan pengurangan emisi.
“Yang paling penting, program ini harus memastikan pengakuan dan perlindungan masyarakat adat dan komunitas lokal. Jangan sampai justru menjadi alat kriminalisasi terhadap mereka,” tegasnya.
Menurut dia, pemenuhan hak atas wilayah adat harus menjadi prasyarat sebelum program lingkungan dijalankan. Jika tidak, justru berpotensi memicu konflik baru di tengah masyarakat.
“Pastikan hak-haknya dulu. Jangan sampai program ini memunculkan sengketa baru antara masyarakat adat dengan pemangku kepentingan lain,” katanya.
Glorio mengutip prinsip gerakan masyarakat adat: tanpa hak, tidak akan ada pengurangan emisi, deforestasi, maupun degradasi hutan.
Oleh karena itu, program lingkungan harus berjalan seiring dengan penguatan hak tenurial.
Selain aspek ekologis, Glorio menilai program kehutanan juga harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat. Salah satu caranya melalui pengembangan dan pengolahan hasil hutan non-kayu.
“Hutan tetap lestari, tapi ekonomi rakyat juga harus tumbuh. Skema-skema seperti ini yang harus dibangun,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan konkret dari pemerintah provinsi hingga kabupaten dan kota. Tanpa sinergi kebijakan, dana besar yang digelontorkan berisiko menjadi sia-sia.
“Jangan dipandang sebagai proyek semata. Ini harus memicu pengakuan wilayah adat sekaligus mendorong ekonomi masyarakat,” kata Glorio.
Disamping itu, dia turut mengkritisi paradoks kebijakan daerah yang di satu sisi berbicara krisis ekologis, namun di sisi lain masih memberi ruang bagi izin industri ekstraktif dan perkebunan.
“Ini jadi paradoks. Kita bicara krisis ekologis, tapi kebijakan kepala daerah tidak berpihak. Pengakuan terhadap masyarakat adat juga masih sangat lemah,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program lingkungan sangat ditentukan oleh political will kepala daerah, mulai dari gubernur, bupati hingga wali kota.
“Jangan hanya mendukung secara seremoni, tapi kebijakan tidak konkret. Itu justru bertentangan dengan semangat yang diluncurkan hari ini,” pungkasnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini