Kayong Utara    

Perjuangan Tim Relawan Gabungan Menembus Medan Terjal Padamkan Karhutla di Bukit Peramas

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Thursday, 24 September 2026
Perjuangan Tim Relawan Gabungan Menembus Medan Terjal Padamkan Karhutla di Bukit Peramas
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Bukit Peramas, kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat. Upaya pemadaman terus dilakukan secara intensif pada Rabu (23/9/2026) oleh tim gabungan yang dibantu Relawan Anti Api dan Asap Kalbar bersama tim Leafbookclub sebagai koordinator logistik.

Menghadapi medan terjal dan minimnya peralatan di lokasi, pergerakan tim diawali dengan pemantauan udara menggunakan drone untuk memetakan sebaran titik api secara lebih akurat.

Sandi dari Relawan Anti Api dan Asap Kalbar mengungkapkan situasi teknis serta kendala yang dihadapi tim saat melakukan pemadaman di lapangan.

“Malam tadi melakukan pantauan drone itu sekitar jam 23.00, dari hasil pantauan drone itu memang ada titik api itu dari bukit belakang ini, nih Air Intan ini menyebar memang ke depan. Akhirnya kami putuskan sama tim untuk ke sini, kami prepare-kan pagi tadi, terus kami dibantu oleh tim logistik, oleh Bu Sakina, dan ada tim kesehatan di situ, kemudian ada tim relawan tempurnya Anti Api di depan,” kata Sandi kepada awak media.

Menurutnya, berdasarkan pantauan drone, titik api berada di kawasan Air Intan sehingga tim memutuskan bergerak ke lokasi untuk melakukan pemadaman.

“Jadi pantauan drone kami ini memang titik api berada di sini, Air Intan. Jadi kami putuskan untuk turun ke sini, sekarang kita ada di lapangan nih untuk matikan apinya. Kendalanya di sini memang jalurnya agak terjal, kita naik gunung, untuk loading alat-alat pemadamnya kita menggunakan jalur laut, naik ke atas ini lumayan tinggi. Tapi alhamdulillah kita sampai di atas untuk memadamkan api,” ujarnya.

Sandi berharap setelah karhutla berhasil ditangani, terdapat program reboisasi untuk memulihkan kawasan hutan yang terdampak.

“Mudah-mudahan kita ke depan ada program reboisasi untuk penanaman kembali hutan atau pohon-pohon yang terdampak karhutla. Semoga kita dapat bibit-bibit unggul nanti yang bisa kita tanam di Air Intan ini,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Logistik Leafbookclub, Sakinah, mengungkapkan perjuangan awal pembentukan posko bantuan dan penggalangan donasi untuk memenuhi kebutuhan para relawan yang berada di garis depan.

“Saya yang dari Leafbookclub mengoordinir logistik buat teman-teman relawan pemadam kebakaran yang ada di garda terdepan. Jadi awalnya saya ragu untuk membangun posko, saya ditelepon dari Pontianak buat bantu untuk bangun posko tapi saya ragu awalnya, karena kami tidak punya cukup uang, kami juga tidak punya cukup bantuan,” kata Sakinah.

Menurutnya, bantuan dari sejumlah pihak kemudian mendorong pembentukan posko tersebut. Sakinah mengatakan, komunitasnya bahkan menggunakan uang kas sebesar Rp500 ribu untuk kebutuhan awal dapur umum dan membeli air minum bagi relawan di lapangan.

“Di hari itu juga kami langsung turun dan saya menyebarkan informasi tentang kami butuh bantuan donasi. Nah saat kami menyebarkan berita itu, dari Tanjung Belimbing dapur umumnya menelpon saya untuk bahwa mereka juga ingin buat dapur umum, akhirnya kita kolab sama dapur Tanjung Belimbing,” ujarnya.

Sakinah mengatakan, ketika kebakaran mulai membesar di Bukit Peramas, pihaknya juga menerima informasi mengenai kebutuhan bantuan di kawasan Aek Lalau.

“Di hari Kamis malamnya itu saya dapat telepon dari warga kalau mereka butuh bantuan di sana cuma ada tiga orang untuk padamkan api di daerah Bukit Peramas tepatnya di Aek Lalau, jam 2 subuh saya turun ke sana dan kami ada grup, grup itu sebenarnya awalnya untuk grup logistik aja, dan alhamdulillah sekarang grup itu isi anggotanya ada 70 orang,” katanya.

Donasi yang terkumpul kemudian digunakan sesuai kebutuhan di lapangan. Sakinah menyebut sejumlah dana digunakan untuk membeli sepatu boot dan senter, terutama karena pemantauan titik api lebih mudah dilakukan pada malam hari.

“Kami penuhi sesuai dengan apa yang kami dapat, beberapa donasi yang uangnya masuk ke kami juga kami belikan sepatu boot sama senter karena memang api itu lebih cepat menyebar di malam hari,” tuturnya.

Berdasarkan pantauan drone tim, Sakinah mengatakan, pergerakan api terlihat menyebar seperti garis dari kawasan Aek Lalau hingga Air Intan.

“Dan berdasarkan pantauan drone dari tim kami memang api itu menjalarnya seperti garis, jadi wajar saja dia sampai ke Air Intan. Kalau lihat dari peta dari Aek Lalau daerah belakang pendopo sampai ke sini itu memang sangat panjang, tapi memang begitulah titik apinya,” jelasnya.

Namun, pemadaman pada malam hingga dini hari juga menghadapi risiko lain. Kondisi hutan yang dipenuhi pohon lapuk membuat tim khawatir terjadi pohon tumbang.

“Karena itu di atas bukit, jadi teman-teman yang berada di posko bawah itu sebenarnya agak takut buat naik ke atas karena kondisi hutan kita banyak pohon-pohon lapuk mengkhawatirkan pohon itu tumbang,” ungkap Sakinah.

Ia mengatakan, saat turun ke lokasi sekitar pukul 02.00 WIB, sejumlah pohon dilaporkan tumbang sehingga tim memilih segera keluar dari kawasan tersebut sebelum subuh.

“Karena waktu jam 2 subuh saya turun itu ada beberapa pohon tumbang di atas sehingga kami cepat-cepat keluar, kami takutnya kami yang terjebak di dalam lalu hal buruk menimpa kami sehingga kami sebelum subuh kami udah keluar dan kami akhirnya cuma bisa membiarkan asap mengepul,” katanya.

Menurut Sakinah, titik api justru lebih sulit ditemukan pada siang hari. Karena itu, tim rutin menggunakan drone pada malam hari untuk memantau perkembangan titik api.

“Karena kalau untuk siang hari memang susah menemukan titik api, lebih nyaman menemukan malam. Jadi setiap malam kami naikkan drone untuk melihat perkembangan titik api. Tadi malam titik api ada dua titik, ada di Cek Kadir sama di sini,” pungkasnya. (Sans)

Artikel Selanjutnya
Apoteker Ingatkan Cara Tepat Konsumsi Tablet Tambah Darah untuk Cegah Anemia
Wednesday, 23 September 2026
Artikel Sebelumnya
Ringankan Beban Masyarakat Saat Karhutla, Telkomsel Hadirkan Paket Murah IndiHome
Wednesday, 23 September 2026

Berita terkait