Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Thursday, 18 June 2026 |
KALBARONLINE.com – Banjir yang merendam sejumlah ruas jalan di Kota Pontianak pada Selasa (16/6/2026) lalu dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan fenomena pasang air laut atau rob yang terjadi secara bersamaan.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, kondisi tersebut membuat air sulit mengalir ke sungai sehingga memicu genangan di sejumlah wilayah, terutama kawasan dengan elevasi rendah.
Menurut Edi, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena rob di Kota Pontianak diperkirakan masih berlangsung hingga 19 Juni 2026.
“Topografi Kota Pontianak ini datar (flat). Kemarin hujan lebih dari tiga jam dengan kapasitas curah hujan yang besar. Saya mendapat data dari BMKG, kemudian sekarang ini sampai tanggal 19 terjadi pasang rob hingga sekitar 2 meter, dengan puncaknya sekitar pukul 21.00 sampai 22.00 WIB,” kata Edi.
Ia menerangkan, meski hujan tidak turun dengan intensitas ekstrem, genangan tetap berpotensi terjadi ketika pasang rob berlangsung. Kondisi ini membuat aliran air dari parit dan drainase menuju sungai menjadi terhambat.
Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko banjir dan genangan, salah satunya dengan meningkatkan fungsi saluran drainase serta melakukan pengerukan parit secara berkala.
“Kita tetap berupaya meningkatkan fungsi parit-parit yang ada, termasuk pengerukan yang memang membutuhkan biaya cukup besar,” ujarnya.
Selain optimalisasi drainase, Pemkot Pontianak juga menyiapkan program pompanisasi dengan menghadirkan dua unit pompa yang akan digunakan untuk mempercepat pembuangan air saat genangan terjadi.
Tak hanya itu, sejumlah jembatan yang dinilai menghambat aliran air menuju Sungai Kapuas juga akan dievaluasi dan diganti guna mendukung kelancaran sistem drainase kota.
Edi mencontohkan penanganan yang akan dilakukan di kawasan Parit Tokaya. Menurutnya, saluran air di wilayah tersebut memiliki kapasitas yang cukup besar dan akan dikoneksikan dengan jaringan saluran lainnya untuk mempercepat aliran air.
“Kita sudah memiliki program dan masterplan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat,” katanya.
Edi menegaskan, penanganan banjir di Kota Pontianak membutuhkan kolaborasi lintas instansi karena persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan wilayah kota, tetapi juga sistem hidrologi yang lebih luas.
“Karena bicara masalah banjir di Kota Pontianak ini juga masalah kewilayahan. Jadi, tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah kota, tetapi perlu melibatkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” tutupnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Banjir yang merendam sejumlah ruas jalan di Kota Pontianak pada Selasa (16/6/2026) lalu dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan fenomena pasang air laut atau rob yang terjadi secara bersamaan.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menjelaskan, kondisi tersebut membuat air sulit mengalir ke sungai sehingga memicu genangan di sejumlah wilayah, terutama kawasan dengan elevasi rendah.
Menurut Edi, berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena rob di Kota Pontianak diperkirakan masih berlangsung hingga 19 Juni 2026.
“Topografi Kota Pontianak ini datar (flat). Kemarin hujan lebih dari tiga jam dengan kapasitas curah hujan yang besar. Saya mendapat data dari BMKG, kemudian sekarang ini sampai tanggal 19 terjadi pasang rob hingga sekitar 2 meter, dengan puncaknya sekitar pukul 21.00 sampai 22.00 WIB,” kata Edi.
Ia menerangkan, meski hujan tidak turun dengan intensitas ekstrem, genangan tetap berpotensi terjadi ketika pasang rob berlangsung. Kondisi ini membuat aliran air dari parit dan drainase menuju sungai menjadi terhambat.
Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko banjir dan genangan, salah satunya dengan meningkatkan fungsi saluran drainase serta melakukan pengerukan parit secara berkala.
“Kita tetap berupaya meningkatkan fungsi parit-parit yang ada, termasuk pengerukan yang memang membutuhkan biaya cukup besar,” ujarnya.
Selain optimalisasi drainase, Pemkot Pontianak juga menyiapkan program pompanisasi dengan menghadirkan dua unit pompa yang akan digunakan untuk mempercepat pembuangan air saat genangan terjadi.
Tak hanya itu, sejumlah jembatan yang dinilai menghambat aliran air menuju Sungai Kapuas juga akan dievaluasi dan diganti guna mendukung kelancaran sistem drainase kota.
Edi mencontohkan penanganan yang akan dilakukan di kawasan Parit Tokaya. Menurutnya, saluran air di wilayah tersebut memiliki kapasitas yang cukup besar dan akan dikoneksikan dengan jaringan saluran lainnya untuk mempercepat aliran air.
“Kita sudah memiliki program dan masterplan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Kementerian Pekerjaan Umum, serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat,” katanya.
Edi menegaskan, penanganan banjir di Kota Pontianak membutuhkan kolaborasi lintas instansi karena persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan wilayah kota, tetapi juga sistem hidrologi yang lebih luas.
“Karena bicara masalah banjir di Kota Pontianak ini juga masalah kewilayahan. Jadi, tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah kota, tetapi perlu melibatkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat,” tutupnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini