Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 09 September 2026 |
KALBARONLINE.com – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang turun drastis, dari 85 titik menjadi 13 titik.
Meski demikian, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni mengingatkan penanganan karhutla di Ketapang belum selesai. Terlebih, sebagian kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut yang memiliki karakteristik sulit dipadamkan.
Hal itu disampaikan Raja Juli Antoni saat meninjau langsung penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang, Selasa (8/9/2026).
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap upaya pemadaman yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Raja Juli mengapresiasi kerja keras Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan masyarakat dalam mengendalikan kebakaran.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Ketapang, jajaran TNI-Polri, serta tentu saja Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api. Kita melihat hari ini teman-teman berjibaku di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, penurunan hotspot tersebut menjadi perkembangan positif. Salah satu dukungan yang dilakukan pemerintah pusat adalah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kembali diintensifkan pada 4-8 September 2026.
“Ketapang masih yang paling tinggi, hari ini 13 titik api (hotspot), tetapi luar biasa penurunannya dibandingkan kemarin yang mencapai 85 titik,” katanya.
Namun, Raja Juli menegaskan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman tidak mudah. Api yang terlihat padam dapat kembali muncul dan merembet ke lokasi lain sehingga membutuhkan pembasahan serta pemantauan secara berkelanjutan.
“Di lahan gambut, teman-teman mengalami kesulitan. Api bisa muncul kembali dan merembet ke lokasi lain. Ini membuktikan bahwa memadamkan api di lahan gambut bukan pekerjaan yang mudah,” tegasnya.
Menteri Kehutanan juga meminta masyarakat dan perusahaan tidak memanfaatkan kondisi cuaca kering untuk membuka lahan dengan cara membakar.
“Saya mengimbau kepada masyarakat, baik petani biasa maupun korporasi, untuk tidak membakar lahan dan tidak memanfaatkan momentum El Nino ini untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar,” katanya.
Sementara itu, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat yang turun langsung melihat kondisi penanganan karhutla di daerah.
“Saya menyambut baik dan mengucapkan terima kasih yang tulus atas kehadiran Bapak Menteri Kehutanan beserta jajaran yang telah hadir langsung di tengah kami,” kata Alexander.
Ia mengatakan penanganan karhutla selama lebih dari dua bulan menghadapi berbagai kendala, mulai dari karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, hingga lokasi kebakaran yang berada di wilayah pedalaman dan sulit dijangkau.
“Selama lebih dari dua bulan, Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat telah berjuang bahu-membahu menahan laju kebakaran yang terus berkembang,” ujarnya.
Alexander berharap dukungan pemerintah pusat terhadap penanganan karhutla di Ketapang terus diperkuat, terutama melalui water bombing dan OMC.
“Kami memandang dukungan water bombing sangat penting, terutama di kawasan yang sulit dijangkau. Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca juga sangat membantu dalam mempercepat pemulihan situasi di tengah kondisi cuaca yang masih kering,” katanya.
Penurunan jumlah hotspot menjadi sinyal positif dalam penanganan karhutla di Ketapang. Namun, pemerintah dan seluruh unsur yang terlibat tetap diminta waspada mengingat kondisi lahan yang masih kering dan potensi munculnya kembali titik api.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat, TNI-Polri, Manggala Agni, dunia usaha, relawan, dan masyarakat pun terus memperkuat upaya pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas. (Adi LC)
KALBARONLINE.com – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang turun drastis, dari 85 titik menjadi 13 titik.
Meski demikian, Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni mengingatkan penanganan karhutla di Ketapang belum selesai. Terlebih, sebagian kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut yang memiliki karakteristik sulit dipadamkan.
Hal itu disampaikan Raja Juli Antoni saat meninjau langsung penanganan karhutla di Kabupaten Ketapang, Selasa (8/9/2026).
Kunjungan tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan pemerintah pusat terhadap upaya pemadaman yang telah berlangsung lebih dari dua bulan.
Raja Juli mengapresiasi kerja keras Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama TNI-Polri, Manggala Agni, BPBD, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, dan masyarakat dalam mengendalikan kebakaran.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati Ketapang, jajaran TNI-Polri, serta tentu saja Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api. Kita melihat hari ini teman-teman berjibaku di lapangan,” ujarnya.
Menurutnya, penurunan hotspot tersebut menjadi perkembangan positif. Salah satu dukungan yang dilakukan pemerintah pusat adalah melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang kembali diintensifkan pada 4-8 September 2026.
“Ketapang masih yang paling tinggi, hari ini 13 titik api (hotspot), tetapi luar biasa penurunannya dibandingkan kemarin yang mencapai 85 titik,” katanya.
Namun, Raja Juli menegaskan karakteristik lahan gambut membuat proses pemadaman tidak mudah. Api yang terlihat padam dapat kembali muncul dan merembet ke lokasi lain sehingga membutuhkan pembasahan serta pemantauan secara berkelanjutan.
“Di lahan gambut, teman-teman mengalami kesulitan. Api bisa muncul kembali dan merembet ke lokasi lain. Ini membuktikan bahwa memadamkan api di lahan gambut bukan pekerjaan yang mudah,” tegasnya.
Menteri Kehutanan juga meminta masyarakat dan perusahaan tidak memanfaatkan kondisi cuaca kering untuk membuka lahan dengan cara membakar.
“Saya mengimbau kepada masyarakat, baik petani biasa maupun korporasi, untuk tidak membakar lahan dan tidak memanfaatkan momentum El Nino ini untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar,” katanya.
Sementara itu, Bupati Ketapang Alexander Wilyo menyampaikan terima kasih atas perhatian pemerintah pusat yang turun langsung melihat kondisi penanganan karhutla di daerah.
“Saya menyambut baik dan mengucapkan terima kasih yang tulus atas kehadiran Bapak Menteri Kehutanan beserta jajaran yang telah hadir langsung di tengah kami,” kata Alexander.
Ia mengatakan penanganan karhutla selama lebih dari dua bulan menghadapi berbagai kendala, mulai dari karakteristik lahan gambut, keterbatasan sumber air, hingga lokasi kebakaran yang berada di wilayah pedalaman dan sulit dijangkau.
“Selama lebih dari dua bulan, Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama unsur TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat telah berjuang bahu-membahu menahan laju kebakaran yang terus berkembang,” ujarnya.
Alexander berharap dukungan pemerintah pusat terhadap penanganan karhutla di Ketapang terus diperkuat, terutama melalui water bombing dan OMC.
“Kami memandang dukungan water bombing sangat penting, terutama di kawasan yang sulit dijangkau. Di sisi lain, Operasi Modifikasi Cuaca juga sangat membantu dalam mempercepat pemulihan situasi di tengah kondisi cuaca yang masih kering,” katanya.
Penurunan jumlah hotspot menjadi sinyal positif dalam penanganan karhutla di Ketapang. Namun, pemerintah dan seluruh unsur yang terlibat tetap diminta waspada mengingat kondisi lahan yang masih kering dan potensi munculnya kembali titik api.
Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat, TNI-Polri, Manggala Agni, dunia usaha, relawan, dan masyarakat pun terus memperkuat upaya pemadaman dan pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas. (Adi LC)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini