Pontianak    

Sosok Oknum Anggota Ormas Diduga Terlibat Pemukulan Mahasiswa Terlihat Sepanggung dengan Gubernur Kalbar

Oleh : Redaksi KalbarOnline
Sunday, 25 October 2026
Sosok Oknum Anggota Ormas Diduga Terlibat Pemukulan Mahasiswa Terlihat Sepanggung dengan Gubernur Kalbar
WhatsApp Icon
Ukuran Font
Kecil Besar

KALBARONLINE.com – Sosok bernama Hendra, yang disebut mahasiswa sebagai oknum anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) yang melakukan pemukulan terhadap mahasiswa saat aksi Kalbar Revolusi, terlihat berada satu panggung dengan Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan.

Foto tersebut diambil saat Pembukaan Pontianak Creative Festival 2026 serta Pelepasan Pawai Budaya Melayu Borneo di Jalan Diponegoro, Pontianak, Minggu (25/10/2026).

Kemunculan sosok tersebut menjadi sorotan di tengah belum tuntasnya penanganan dugaan kekerasan terhadap mahasiswa dalam rangkaian demonstrasi Kalbar Revolusi di Pontianak pada 20 Oktober 2026.

Seorang mahasiswa yang turut mengikuti aksi Kalbar Revolusi mengaku marah setelah melihat foto itu. Ia menyebut sosok yang berada satu panggung dengan gubernur merupakan Hendra, yang menurutnya terlibat dalam pemukulan terhadap mahasiswa.

Sosok Oknum Anggota Ormas Diduga Terlibat Pemukulan Mahasiswa Terlihat Sepanggung dengan Gubernur Kalbarr
Gubernur Kalbar Ria Norsan di balik panggung acara dengan seorang pria yang menggunakan teluk belanga warna hitam yang disebut sumber mahasiswa sebagai Hendra, sosok yang diduga terlibat dalam pemukulan mahasiswa saat aksi Kalbar Revolusi (Foto: istimewa)​

Ia menilai, jika sosok dalam foto itu benar merupakan orang yang diduga terlibat dalam insiden kekerasan, kemunculannya bersama gubernur menimbulkan pertanyaan mengenai sikap pemerintah terhadap penanganan kasus tersebut.

“Marah. Ini menunjukkan adanya indikasi bahwa Ria Norsan yang menyewa oknum ormas tersebut. Jika masih sepanggung sama pelaku dan masih membiarkan orang semacam itu berkeliaran, artinya tidak ada sikap tegas terhadap pelaku,” ujarnya.

Meski demikian, tudingan bahwa Ria Norsan menyewa oknum ormas merupakan klaim narasumber yang belum didukung bukti terverifikasi.

Dhika, salah seorang mahasiswa yang mengikuti rangkaian aksi Kalbar Revolusi pada Selasa, Rabu, dan Jumat, mengatakan dirinya hadir langsung di lokasi demonstrasi. Ia menjelaskan, ketegangan pada hari pertama terjadi antara mahasiswa dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) serta sejumlah orang yang diduga merupakan anggota ormas.

Menurut Dhika, persoalan dengan Satpol PP berkaitan dengan ban. Sementara itu, ketegangan dengan kelompok yang diduga anggota ormas terjadi ketika mereka berupaya memukul mundur mahasiswa yang sedang bergerak dalam aksi demonstrasi.

“Sehingga terjadilah kericuhan di Bundaran Digulis antara mahasiswa dan ormas,” kata Dhika.

Pada hari kedua, mahasiswa kembali berkumpul di Bundaran Digulis setelah demonstrasi di Kantor Gubernur Kalbar. Mereka melanjutkan aksi karena merasa tuntutan yang disampaikan sebelumnya belum tersalurkan secara memadai.

Sementara pada Jumat (23/10/2026), mahasiswa mendatangi DPRD Kalbar dan ditemui Gubernur Ria Norsan bersama Wakil Gubernur Kalbar. Dalam pertemuan itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan, termasuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dugaan pemukulan terhadap mahasiswa.

Namun, Dhika menilai respons yang diterima belum memuaskan karena persoalan karhutla dan dugaan pemukulan terhadap mahasiswa belum mendapat tanggapan yang menurutnya memadai.

Terkait foto yang memperlihatkan Ria Norsan berada satu panggung dengan sosok yang disebut sebagai Hendra, Dhika mengaku belum melihat foto tersebut secara langsung.

“Saya pribadi belum melihat foto tersebut. Kedua, perlu juga diverifikasi foto itu benar apa tidak,” ujarnya.

Ia mengatakan mahasiswa akan merespons dengan tenang apabila foto tersebut benar memperlihatkan gubernur bersama salah satu sosok yang diduga terlibat dalam pemukulan mahasiswa.

Sebelumnya, dugaan kekerasan terhadap mahasiswa saat demonstrasi pada Selasa (20/10/2026) telah menjadi sorotan. Dalam pemberitaan KALBARONLINE.com pada hari itu, sejumlah orang berpakaian preman diduga melakukan kekerasan terhadap mahasiswa di sekitar Kantor Gubernur Kalbar dan Bundaran Digulis Untan.

Dalam perkembangan berikutnya, Fiki dari DEMA IAIN Pontianak menyebut tujuh mahasiswa mengalami luka akibat dugaan pemukulan tersebut. Perwakilan mahasiswa juga menyatakan telah menyampaikan laporan resmi ke Polda Kalbar pada Rabu (21/10/2026).

Dhika mengatakan mahasiswa tetap mengawal laporan tersebut. Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima mahasiswa, Kapolresta Pontianak menyebut laporan yang disampaikan masih kekurangan bukti.

“Kalau memang dikatakan kurang bukti, maka akan kami lengkapi. Karena bukti kami sangat banyak,” kata Dhika.

Ia berharap pemerintah provinsi, termasuk gubernur dan wakil gubernur, ikut membantu mengawal penanganan perkara tersebut. Menurutnya, dugaan kekerasan terhadap mahasiswa perlu ditangani secara serius karena menyangkut marwah Kalimantan Barat.

Dhika menambahkan, hingga wawancara dilakukan, mahasiswa mengaku belum menerima panggilan dari pihak kepolisian. Ia menyebut keterangan mengenai kekurangan bukti menjadi informasi terakhir yang diterima mahasiswa dari Kapolresta Pontianak.

Di sisi lain, Ria Norsan sebelumnya telah membantah tudingan bahwa dirinya memerintahkan ormas untuk memukul mahasiswa saat aksi demonstrasi di Pontianak pada 20 Oktober 2026.

Bantahan tersebut disampaikan ketika menemui massa aksi Kalbar Revolusi Jilid 3 di halaman Kantor DPRD Kalbar, Jumat (23/10/2026). Norsan menegaskan tidak pernah memberikan perintah tersebut dan menyatakan berani bersumpah demi Allah untuk membantah tudingan itu.

“Untuk masalah itu, saya berani bersumpah demi Allah bahwa saya tidak pernah menyuruh ormas mana pun,” tegas Ria Norsan.

Terkait dugaan pemukulan terhadap mahasiswa, Ria menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum dan pihak terkait sesuai mekanisme yang berlaku.

“Silakan jika memang bisa diproses, kita serahkan sesuai mekanisme yang berlaku,” ujarnya.

KALBARONLINE.com telah berupaya mengonfirmasi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Kalimantan Barat terkait tindak lanjut laporan mahasiswa mengenai dugaan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota ormas dalam aksi demonstrasi.

Namun, hingga berita ini ditayangkan, media ini belum mendapatkan jawaban dari pihak kepolisian.

Kemunculan sosok yang disebut sebagai Hendra dalam foto bersama gubernur menjadi sorotan di tengah upaya mahasiswa mengawal laporan mereka. Namun, keberadaan seseorang di satu panggung dengan pejabat tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatannya dalam tindak kekerasan maupun adanya hubungan dengan pihak yang dituduh memerintahkan kekerasan tersebut.

Identitas sosok dalam foto, afiliasinya dengan ormas, serta dugaan keterlibatannya dalam pemukulan mahasiswa masih perlu diverifikasi lebih lanjut. Perkembangan penanganan laporan oleh kepolisian juga menjadi bagian penting untuk menjawab tuntutan mahasiswa atas kejelasan dan penegakan hukum. (Tim Liputan)

Artikel Selanjutnya
Bahasan Ajak Komunitas Pemancing Jaga Kebersihan Sungai dan Parit di Pontianak
Sunday, 25 October 2026
Artikel Sebelumnya
Bahasan Ajak Komunitas Pemancing Jaga Kebersihan Sungai dan Parit di Pontianak
Sunday, 25 October 2026

Berita terkait