Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Tuesday, 13 October 2026 |
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyentil Pertamina terkait antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang kembali terjadi di sejumlah SPBU di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Ia meminta Pertamina tidak menganggap enteng persoalan pasokan agar antrean panjang dan kelangkaan BBM tidak kembali terulang.
Edi mengatakan, antrean di SPBU umumnya dipicu keterlambatan pasokan, mulai dari proses pengolahan, produksi, distribusi, hingga pengangkutan BBM.
“Kalau terjadi antrean di SPBU, penyebabnya biasanya berkaitan dengan keterlambatan suplai dari Pertamina, baik dari pengolahan, produksi, distribusi, maupun pengangkutan. Biasanya seperti itu, seperti yang terjadi menjelang Lebaran kemarin,” jelasnya, Selasa (13/10/2026).
Menurut Edi, gangguan pasokan dalam skala kecil dapat memicu efek domino. Ketika masyarakat mengetahui adanya gangguan, kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM bisa membuat antrean meluas ke SPBU lainnya.
Ia mengingatkan, kebutuhan BBM juga berpotensi meningkat dalam beberapa waktu ke depan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, Imlek, Cap Go Meh, hingga Idulfitri. Karena itu, Pertamina diminta menyiapkan langkah antisipasi sejak dini agar pasokan tetap terjaga saat kebutuhan masyarakat meningkat.
“Kita berharap Pertamina sudah melakukan mitigasi agar tidak terjadi antrean atau kelangkaan BBM. Sebab, pihak yang memiliki kewenangan dan bertanggung jawab menyediakan BBM adalah Pertamina,” ujarnya.
Edi menegaskan, Pemerintah Kota Pontianak tidak hanya mengimbau, tetapi juga telah meminta dan mengingatkan Pertamina agar lebih serius menangani persoalan pasokan BBM.
“Bukan hanya mengimbau, kita sudah meminta dan mengingatkan Pertamina. Dalam bahasa Pontianak, kita sudah banti-wanti, artinya meminta agar mereka waspada dan serius menangani persoalan ini, jangan dianggap enteng,” tegasnya.
Sentilan tersebut menjadi penegasan Edi agar persoalan pasokan BBM ditangani secara serius, mengingat dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha. Antrean panjang dan kelangkaan BBM juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi hingga memengaruhi inflasi.
“Kalau masalah ini terjadi, yang dirugikan adalah masyarakat dan dunia usaha, serta bisa berdampak terhadap inflasi dan sebagainya,” tutupnya. (Lid)
KALBARONLINE.com – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyentil Pertamina terkait antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) yang kembali terjadi di sejumlah SPBU di Kalimantan Barat, termasuk Pontianak. Ia meminta Pertamina tidak menganggap enteng persoalan pasokan agar antrean panjang dan kelangkaan BBM tidak kembali terulang.
Edi mengatakan, antrean di SPBU umumnya dipicu keterlambatan pasokan, mulai dari proses pengolahan, produksi, distribusi, hingga pengangkutan BBM.
“Kalau terjadi antrean di SPBU, penyebabnya biasanya berkaitan dengan keterlambatan suplai dari Pertamina, baik dari pengolahan, produksi, distribusi, maupun pengangkutan. Biasanya seperti itu, seperti yang terjadi menjelang Lebaran kemarin,” jelasnya, Selasa (13/10/2026).
Menurut Edi, gangguan pasokan dalam skala kecil dapat memicu efek domino. Ketika masyarakat mengetahui adanya gangguan, kekhawatiran terhadap ketersediaan BBM bisa membuat antrean meluas ke SPBU lainnya.
Ia mengingatkan, kebutuhan BBM juga berpotensi meningkat dalam beberapa waktu ke depan, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru, Imlek, Cap Go Meh, hingga Idulfitri. Karena itu, Pertamina diminta menyiapkan langkah antisipasi sejak dini agar pasokan tetap terjaga saat kebutuhan masyarakat meningkat.
“Kita berharap Pertamina sudah melakukan mitigasi agar tidak terjadi antrean atau kelangkaan BBM. Sebab, pihak yang memiliki kewenangan dan bertanggung jawab menyediakan BBM adalah Pertamina,” ujarnya.
Edi menegaskan, Pemerintah Kota Pontianak tidak hanya mengimbau, tetapi juga telah meminta dan mengingatkan Pertamina agar lebih serius menangani persoalan pasokan BBM.
“Bukan hanya mengimbau, kita sudah meminta dan mengingatkan Pertamina. Dalam bahasa Pontianak, kita sudah banti-wanti, artinya meminta agar mereka waspada dan serius menangani persoalan ini, jangan dianggap enteng,” tegasnya.
Sentilan tersebut menjadi penegasan Edi agar persoalan pasokan BBM ditangani secara serius, mengingat dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha. Antrean panjang dan kelangkaan BBM juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi hingga memengaruhi inflasi.
“Kalau masalah ini terjadi, yang dirugikan adalah masyarakat dan dunia usaha, serta bisa berdampak terhadap inflasi dan sebagainya,” tutupnya. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini