Shopping cart
Your cart empty!
Terms of use dolor sit amet consectetur, adipisicing elit. Recusandae provident ullam aperiam quo ad non corrupti sit vel quam repellat ipsa quod sed, repellendus adipisci, ducimus ea modi odio assumenda.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Sit amet consectetur adipisicing elit. Sequi, cum esse possimus officiis amet ea voluptatibus libero! Dolorum assumenda esse, deserunt ipsum ad iusto! Praesentium error nobis tenetur at, quis nostrum facere excepturi architecto totam.
Lorem ipsum dolor sit amet consectetur adipisicing elit. Inventore, soluta alias eaque modi ipsum sint iusto fugiat vero velit rerum.
Do you agree to our terms? Sign up
|
|
Oleh : Redaksi KalbarOnline |
| Wednesday, 09 September 2026 |
KALBARONLINE.com - Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah di Kalimantan Barat. Berdasarkan data BPBD Kalbar, luas lahan yang terbakar di Ketapang mencapai 12.443,79 hektare.
Plt Kepala BPBD Provinsi Kalbar, Ridwan, mengatakan Kabupaten Kubu Raya berada di urutan kedua dengan luas lahan terbakar mencapai 8.614,31 hektare.
“Luas Kabupaten Ketapang yang terbakar seluas 12.443,79 hektare. Untuk kabupaten kedua yaitu Kabupaten Kubu Raya, seluas 8.614,31 hektare,” kata Ridwan.
Ridwan mengungkapkan, sebagian wilayah terdampak karhutla memiliki karakteristik tanah gambut. Ketebalan gambut di setiap wilayah juga bervariasi sehingga penanganan kebakaran membutuhkan upaya khusus.
Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kalbar terus melakukan penanganan dengan mengerahkan tim darat serta dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Hingga saat ini, lebih dari 15 ribu personel tim darat dilibatkan dalam penanganan karhutla di Kalbar. Sementara untuk OMC, pemerintah bersama BNPB telah mengerahkan tiga pesawat untuk melakukan penyemaian awan hujan.
BPBD menyebut penanganan karhutla dilakukan berdasarkan data dari BMKG, Sipongi, serta laporan tim di lapangan.
“Yang pasti data. Wali data kita adalah BMKG. Untuk awan yang bisa disemai, apakah memungkinkan untuk menghasilkan hujan atau tidak, termasuk arah angin, semuanya berdasarkan ketetapan yang dikeluarkan oleh BMKG,” ujarnya.
Meski titik panas di Kalbar saat ini telah mengalami penurunan signifikan, BPBD mengingatkan ancaman karhutla belum berakhir.
Sebelumnya, jumlah titik panas di Kalbar tercatat lebih dari 4.000 titik. Kini jumlah tersebut turun menjadi sekitar 149 titik atau berada di bawah 200 titik.
Namun, kondisi tersebut belum membuat pemerintah menurunkan kewaspadaan. Berdasarkan prediksi BMKG, dampak El Niño masih berpotensi dirasakan hingga Januari, dengan titik puncak diperkirakan terjadi pada Oktober.
“Kalau untuk prediksi, berdasarkan prediksi yang ada dari BMKG, kita akan menghadapi dampak El Niño sampai Januari. Kalau titik puncaknya berada di Oktober. Jadi, kerja kita ini masih panjang dan masih keras,” katanya.
Untuk wilayah yang masih menjadi perhatian, Ketapang disebut tetap menjadi daerah dengan kondisi karhutla paling tinggi. Kubu Raya juga masih menghadapi kondisi serupa, sementara Kabupaten Melawi mulai mengalami peningkatan sebaran titik panas dan risiko kebakaran.
BPBD menegaskan penanganan akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan, termasuk memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak selama masa tanggap darurat. (Lid)
KALBARONLINE.com - Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terparah di Kalimantan Barat. Berdasarkan data BPBD Kalbar, luas lahan yang terbakar di Ketapang mencapai 12.443,79 hektare.
Plt Kepala BPBD Provinsi Kalbar, Ridwan, mengatakan Kabupaten Kubu Raya berada di urutan kedua dengan luas lahan terbakar mencapai 8.614,31 hektare.
“Luas Kabupaten Ketapang yang terbakar seluas 12.443,79 hektare. Untuk kabupaten kedua yaitu Kabupaten Kubu Raya, seluas 8.614,31 hektare,” kata Ridwan.
Ridwan mengungkapkan, sebagian wilayah terdampak karhutla memiliki karakteristik tanah gambut. Ketebalan gambut di setiap wilayah juga bervariasi sehingga penanganan kebakaran membutuhkan upaya khusus.
Di tengah kondisi tersebut, BPBD Kalbar terus melakukan penanganan dengan mengerahkan tim darat serta dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Hingga saat ini, lebih dari 15 ribu personel tim darat dilibatkan dalam penanganan karhutla di Kalbar. Sementara untuk OMC, pemerintah bersama BNPB telah mengerahkan tiga pesawat untuk melakukan penyemaian awan hujan.
BPBD menyebut penanganan karhutla dilakukan berdasarkan data dari BMKG, Sipongi, serta laporan tim di lapangan.
“Yang pasti data. Wali data kita adalah BMKG. Untuk awan yang bisa disemai, apakah memungkinkan untuk menghasilkan hujan atau tidak, termasuk arah angin, semuanya berdasarkan ketetapan yang dikeluarkan oleh BMKG,” ujarnya.
Meski titik panas di Kalbar saat ini telah mengalami penurunan signifikan, BPBD mengingatkan ancaman karhutla belum berakhir.
Sebelumnya, jumlah titik panas di Kalbar tercatat lebih dari 4.000 titik. Kini jumlah tersebut turun menjadi sekitar 149 titik atau berada di bawah 200 titik.
Namun, kondisi tersebut belum membuat pemerintah menurunkan kewaspadaan. Berdasarkan prediksi BMKG, dampak El Niño masih berpotensi dirasakan hingga Januari, dengan titik puncak diperkirakan terjadi pada Oktober.
“Kalau untuk prediksi, berdasarkan prediksi yang ada dari BMKG, kita akan menghadapi dampak El Niño sampai Januari. Kalau titik puncaknya berada di Oktober. Jadi, kerja kita ini masih panjang dan masih keras,” katanya.
Untuk wilayah yang masih menjadi perhatian, Ketapang disebut tetap menjadi daerah dengan kondisi karhutla paling tinggi. Kubu Raya juga masih menghadapi kondisi serupa, sementara Kabupaten Melawi mulai mengalami peningkatan sebaran titik panas dan risiko kebakaran.
BPBD menegaskan penanganan akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan, termasuk memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak selama masa tanggap darurat. (Lid)
Bayar Sekarang, Tahu Lebih Banyak
Masukkan nomor WhatsApp Anda untuk mendapatkan akses penuh ke berita premium ini